Ketika Petani Kehilangan Capungnya

Ketika Petani Kehilangan Capungnya;
Sebuah Reportase Renungan tentang Masyarakat Adat dan Perubahan Iklim.

Akhir tahun 2010, untuk ketiga kalinya selama merantau ke tanah
Jawa, kembali saya menginjakkan kaki di Kampung Mellengnge bagian
barat, Desa Cinnongtabi,Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo Sulawesi
Selatan. Kamping ini terletak disebalah timur kota Sengkang, ibukota
kabupaten Wajo, bersisian ke arah utara dengan kota tua Tosora, bekas
ibukota kerajaan Wajo hingga Abad XVII.

Untuk mencapai
kampung ini, saya harus melewati perjalanan darat sekitar 30 kilometer
dilanjutkan dengan jalan kaki hingga 5 kilometer dari pinggir jalan
aspal. Meski dari kampung ini kita bisa menatap kemegahan kota Sengkang
dengan tower-tower pemancar jaringan teleponnya, namun untuk menuju
kampung ini kita harus menempuh jalan memutar dari Sengkang ke
Sempangnge – Paria – Mellengge atau dari arah selatan dengan rute
Sengkang – Tampangen – Tosora – Mellengnge. Jangankan jalan aspal,
sekedar jalan tanah yang terbukapun tidak ditemui, kecuali jalan setapak
berupa pematang sawah yang berlabirin yang menghubungkan Kampung
Mellengnge disisi timur dengan kampung Mellengnge sisi barat.

Setelah
mata dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau dan segar,
kaki saya juga dimanjakan dengan bermain air sawah dan sungai-sungai
kecil yang terus mengalir kala itu. Maklum saat baru saja turun hujan,
jadi air melimpah. Berbanding terbalik dikala musim kemarau, petak-petak
sawah yang tadinya becek dan berlumpur akan berganti retakan-retakan
unik mirip puzzle yang sambung menyambung.

Dibanding
saat pertama kali saya tinggalkan kampung ini, selain penduduknya yang
banyak tidak saya kenali lagi dan deretan rumah-rumah yang banyak
berubah, kondisi alamnya kampung ini juga banyak berubah. Hal yang
paling nyata telah banyak berubah (bahkan tidak lagi saya temui sama
sekali) adalah tidak adanya kerbau-kerbau berkeliaran di hamparan sawah
atau dipadang rumput seperti 17 tahun yang lalu. Hamparan rumput tempat
saya bermain dulupun kini juga telah berubah, tidak lagi hijau dan segar
seperti dulu. Rumput yang ada sekarang telah pucat dan hijaunya lebih
menyerupai daunan layu.

Ikhwal perubahan ini saya
tanyakan pada paman saya. Ia hanya tersenyum penuh arti, seolah paham
jika saya memiliki segudang pertanyaan. Kemana gerangan kerbau-kerbau
itu? Bersembunyi dimanakah rumput-rumput hijau itu? Sedang dimana
gembala-gembala yang berwajah polos dan bersahaja itu? Kemanakah
gundukan-gundukan kotoran kerbau yang berwarna hitam gelap dan selalu
dikerubuti lalat itu? Kemanakah indahnya alam kampungku?
Serentetan
pertanyaan yang saya ajukan bertubi-tubi akhirnya memaksa paman saya
buka mulut, memberi jawaban, mesti jawaban sangat singkat dan masih
mengandung tanda tanya baru. Ia hanya menjawab, “coba kamu lihat
rumput-rumput itu, masih adakah capung dan belalang yang berkejaran dan
hinggap disana” tutur pamanku dalam bahasa Bugis lengkap dengan aksennya
yang khas.

Jawaban tersebut bukanlah jawaban bagiku,
melainkan kalimat tanya yang bernada perintah bagiku.  Saat pamanku
kucecar kembali, dengan diplomatis ia menjawab “bukannya kamu anak
sekolahan?, masak harus diajari saya yang cuma tamatan sekolah rakyat
ini”. Jawaban yang justru menjadi sindiranbagi saya, menelanjangi
kebodohan saya yang tak lagi mampu membaca tanda-tanda alam. Tidak
seperti mereka yang menjadikan alam sebagai sekolah dan gurumereka. Aku
malu!

Dua minggu kemudian, saat saya tiba kembali di
Yogyakarta, kota rantauan saya. Sindirandan perintah paman saya tersebut
terus tergiang. Memaksaku mencari jawaban,memuaskan rasa ingin tahuku.
Lewat berbagai bacaan yang saya lumat, tahulah saya jika ternyata antara
capung, rumput dan kerbau memiliki rantai hubungan yang sangat erat.
Keberadaan capung dipadang rumput ternyata selalu menjadi patokan para
gembala- untuk memilih lokasi rumput yang layak dimakan oleh
kerbau-kerbaunya. Jika direrimbunan atau hamparan rumput yang tersedia
terdapat banyak capung dan belalang itu berarti rumput itu sehat dan
layak dimakan sang kerbau, para gembala akan menggiring ternaknya
kesana.

Hilangnya capung di hamparan rumput di kampung
saya ternyata karena dipaksa oleh manusia. Saat pepohonan terus
ditebangi, maka hamparan rumput akan terkena sinar matahari langsung dan
cepat kering.
Embun-embun dipagi hari pun akan cepat menguap dan
itu berarti sang capung tak lagi sempat menitipkan telurnya didalam
bulir embun tersebut hingga menetas dan menjadi anakan capung. Dengan
demikian proses kembang biak capung terganggu. Diluar itu kadang para
capung dan belalang sengaja diusir atau diracuni oleh para manusia.Saat
petani memberatas gulma dan rumput di sawah dan padang rumput dengan
semporotan bahan kimia pembasmi gulma dan rumput, maka rumput itu tidak
lagi segar dan sehat dimakan sang ternak. Tidak sehat juga untuk sang
capung dan belalang, parahnya bahan kimia itu akan berevolusi pada
anakan rumput yang akan tumbuh pada priode-priode berikutnya. Jadilah
sepanjang masa, rumput itu  beracun dan tidak sehat bagi kerbau
dancapung. Maka wajar jika capung hilang.

Kemampuan
membaca alam dan mengerti alam inilah yang dinginkan paman saya untuk
saya miliki, mungkin itulah alasannya, mengapa beliau selalu memaksa
saya mengitari hamparan sawah dan padang rumput ditengah kampung itu
setiap kali saya bertandang ke rumahnya. Bagi paman saya dan masyarakat
Bugis sekitarnya, tanda-tanda alam tersebut adalah bentuk kearifan lokal
yang mereka bangun secara empiris, berdasarkan pengalaman-pengalaman
keseharian.

Hilangnya capung dan belalang itu bagi paman saya
yang seorang petani adalah bencana besar. Bahkan sebuah aib dimata para
leluhur mereka, mereka dianggap tidak becus menjaga alam, menjaga
kelestarian alam dan segala mahluk didalamnya. Tak hanya paman saya yang
merasa kehilangan dan ditampar aib, para petani lainnya juga
merasakanya, termasuk para gembala kerbau. Bahkan gembala kerbau tidak
hanya kehilangan capung dan belalangnya, melainkan juga kehilangan pada
rumput yang segar dan lembut serta tidak gatal. Sehingga mereka bisa
tidur pulas beralaskan rumput yang hijau, seger dan bersih. Bahkan untuk
sekedar rebahan atau selonjoran kaki sambil bermain suling bambupun
sudah tak dapat mereka nikmati. Ironis!

Demi
menjaga keberadaan capung ditengah sawah dan hamparan rumput, leluhur
orang Bugis selalu mengajarkan pada anak cucunya agar tidak menangkap
capung. “Ayo anak-anak, berhenti menangkap joli-joli  itu, nanti kamu joli’-joli’”.
“Anak-anak, ayo berhenti menangkap Capung itu,nanti kamu bisa mencret”,
begitu kalimat sakti para orang tua kami. Lucunya, kami menurut dan
betul-betul takut dengan peringatan tersebut. Meski kami tak pernah
mencoba untuk membuktikannya.

Kata joli-joli memang memiliki fonem dengan kata joli’-joli’ (senada
dengan kata Kali’ orang betawi). Menangkap capung sesungguhnya adalah
permainan, bagi kami. Tetapi bagi masyarakat Bugis dan lingkungan adat
Bugis. Capung tak sekedar hewan kecil yangtak berdaya. Ia adalah simbol
kesuburan, simbol kemakmuran. Tak ada capung yangberkeliaran di padang
savana kami, itu berarti rumput di padang itu sudah tak segar dan sehat
lagi untuk pakan ternak. Belakangan, setelah kami dewasa, barukami
sadari. Ternyata, mitos-mitos ini sengaja ditanamkan orang tua kami,
demi menjaga kelestarian sang Capung. Juga keseimbangan ekosistem alam,
antara rumput, capung, ternak dan manusia.

Kata
orang tua kami, boleh menangkap capung, tapi tidak untukdipelihara. Maka
setelah ditangkap, segeralah bebaskan kembali. Sebelum dibebaskan, ada
ritual khusus yang harus kami lakukan. Masing-masing capungyang kami
tangkap kami arahkan untuk menggigit pusar kami. Inilah bentuk
permintaan maaf kami pada sang capung, karena sempat kami tangkap.
Konon, dengan digigitnya pusar kami oleh sang capung, kutukan mencret
itu hilang dengan sendirinya. Berani coba?

Yogyakarta, 15 April 2013
Oleh : Suryadin Laoddang

Tulisan ini diikut lombakanpada “Kompetisi Penulisan dengan tema ‘Masyarakat Adat Sulawesi, DampakPerubahan Iklim dan REDD+
===============
Sumber gambar : nature-of-decay.deviantart.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *