Sarung Sutera Bugis
Sarung Sutera Bugis

Sarung Sutera Bugis; Dari Sarung Adat Hingga Sarung Senggama

Sarung Sutera Bugis

Oleh Suryadin Laoddang

Coba pejamkan mata sebentar, dan bayangkan pagi Idul Kurban di kampung, puluhan tahun lalu. Udara masih dingin, embun masih nempel di daun pisang depan rumah, dan suara bedug bersahutan dari beberapa masjid sekaligus. Bapak sudah bangun dari subuh, mandi, lalu berdiri di depan lemari kayu tua sambil mengeluarkan satu benda yang selalu disimpan rapi: sarung sutra kesayangannya. Bukan sarung sembarangan — ini sarung yang cuma keluar dari lemari setahun beberapa kali, buat momen-momen yang benar-benar penting.

Sarung itu dililitkan pelan, dipadukan dengan jas gelap dan kopiah hitam yang mengilap kena sinar matahari pagi. Kalau kamu sempat menyentuhnya, permukaannya licin dan dingin di jari, dengan kilau lembut yang berubah-ubah tergantung arah cahaya — kadang keperakan, kadang kecokelatan tua, tergantung dari sudut mana kamu memandangnya. Begitu berjalan menuju lapangan tempat Salat Ied digelar, menuju Lapangan Merdeka Sengkang, kami beriringan dengan tetangga dan sanak famili, ada bunyi khas yang muncul dari gesekan kain sutra di setiap langkah — semacam desiran halus, seperti kertas tipis yang disentuh angin.

Ppuncaknya ada di satu momen spesifik: gerakan i’tidal, saat semua jamaah berdiri tegak setelah dua sujud. Di detik itu, ratusan sarung sutra bergesekan bersamaan, menciptakan orkestra kecil yang cuma bisa didengar sekali setahun. Kalau kamu pernah dengar suara itu langsung, kamu pasti tahu ini bukan suara biasa — ada semacam keindahan yang susah dijelaskan, sesuatu yang bikin bulu kuduk berdiri tanpa tahu kenapa.

Sekarang, coba kamu ingat-ingat lagi: kapan terakhir kali kamu dengar suara itu? Kalau susah diingat, itu wajar. Suara itu sudah nyaris menghilang, tergeser oleh sarung-sarung katun polos yang lebih murah, lebih praktis, dan gencar diiklankan di berbagai media sebagai pilihan yang lebih “modern” dan “berkelas”. Ironisnya, yang hilang bukan cuma sehelai kain — yang hilang adalah satu jenis suara, satu jenis kenangan sensorik, yang mungkin generasi setelah kita tidak akan pernah punya kesempatan untuk merindukannya, karena mereka bahkan tidak pernah mendengarnya sama sekali.

Lipa, Bukan Sekadar Kain

Dalam bahasa Bugis, sarung disebut lipa. Buat masyarakat Bugis, lipa bukan cuma pelengkap busana buat acara adat. Lipa menemani hampir seluruh siklus hidup manusia — dipakai waktu salat, waktu kerja di sawah, waktu tidur malam, sampai waktu momen paling personal antara suami istri. Coba bayangkan satu lembar kain yang harus “hadir” di begitu banyak momen kehidupan seseorang, dari lahir sampai menikah, dari sujud sampai tidur. Rasanya seperti satu benda yang menjadi saksi bisu seluruh perjalanan hidup seseorang.

Malam hari dipakai tidur, dilipat rapi di pagi hari. Saat mandi pagi, ambil dari sarung berbeda dengan fungsi berbeda. Siang hari dengan sarung berbeda digelar jadi alas tidur siang di balai bambu di teras rumah. Sore hari 2 sarung berbeda lagi untuk mandi. Petang hari, sarung yang berbeda jadi teman untuk salat berjamaah, lalu kembali dilipat dan disimpan rapi untuk dipakai nanti subuh dan esok magrib. Lalu ambil lagi satu sarung berbeda untuk tidur. Bahkan tersedia satu sarung lagi untuk bersenggama bersama pasangan resmi. Jika siang atau malam itu, ada hajatan maka akan ada satu (atau lebih) sarung lagi khusus untuk itu. Satu kain, ribuan cerita yang menempel di seratnya tanpa pernah benar-benar terlihat.

Budaya menenun sendiri sudah tumbuh di tanah Sulawesi sejak sekitar tahun 1400, awalnya dengan motif garis-garis sederhana, vertikal dan horizontal. Baru sekitar dua abad kemudian, tahun 1600-an, muncul motif kotak-kotak yang lebih rumit, tumbuh subur berbarengan dengan masa kejayaan Islam di Sulawesi Selatan. Menariknya, sarung ini sebenarnya adalah semacam “bahasa” tersendiri. Ia punya kode dan aturan tak tertulis yang bisa langsung dibaca oleh orang yang paham — semacam dress code generasi lama, jauh sebelum ada istilah personal branding lewat outfit kayak sekarang ini.

Seorang penjelajah Inggris bernama Thomas Forrest, dalam catatan perjalanannya, sampai terpukau melihat bagaimana selembar sarung Bugis bisa menutupi tubuh dari kepala sampai kaki, bahkan dipakai untuk tidur, dengan motif kotak-kotak yang mengingatkannya pada kain tartan khas Skotlandia.

Motif Balo Renni: Warna Lembut untuk Hati yang Masih Bebas

Coba bayangkan seorang gadis muda, duduk di teras rumah panggung, mengenakan sarung berwarna merah jambu lembut atau hijau muda yang menyejukkan mata. Garis-garisnya tipis, rapat, membentuk ribuan kotak kecil yang kalau dilihat dari jauh seperti kabut warna yang menyatu. Itulah motif balo renni — sarung khusus untuk perempuan yang belum menikah.

Dulu, kalau ada pemuda yang datang ke sebuah hajatan dan melihat seorang gadis mengenakan sarung motif ini, ia tahu persis: gadis itu masih perawan, masih “tersedia” untuk dilamar. Bayangkan betapa efisiennya sistem ini — tidak perlu basa-basi, tidak perlu bertanya ke sana kemari, cukup dengan melihat motif sarung, status seseorang langsung terbaca. Semacam bio Instagram yang berjalan, tapi versi kain tenun, jauh sebelum ada media sosial. Sayangnya kalau kamu berharap sistem ini masih berlaku hari ini, sebaiknya jangan terlalu berharap. Masyarakat Bugis sekarang memilih sarung berdasarkan kecocokan warna dengan baju, atau sekadar mengikuti motif yang sedang tren, bukan lagi karena makna filosofis di baliknya. Satu lagi kearifan lama yang perlahan pudar, tergantikan oleh selera pasar.

Motif Balo Lobbang: Versi Berani untuk Para Jejaka

Kalau balo renni adalah sisi lembut, balo lobbang adalah pasangannya yang lebih berani — khusus dipakai pria yang belum menikah. Bayangkan sarung dengan garis-garis tebal, kotak-kotak besar, dan warna-warna yang menyala terang: merah (cella), merah menyala (cella raka), sampai merah keemasan (camara’). Kalau balo renni bikin kita membayangkan sosok gadis yang anggun, balo lobbang bikin kita membayangkan sosok pemuda gagah yang berdiri tegak di tengah keramaian pesta adat, sarungnya berkilau kena cahaya matahari sore.

Dua motif ini — balo renni dan balo lobbang — sebenarnya adalah sepasang kode visual yang saling melengkapi, semacam simbol status lajang yang dipakai berdampingan dalam satu acara adat, tapi bicara dalam bahasa warna dan ukuran garis yang berbeda.

Motif Tettong dan Makkalu: Keahlian yang Tak Boleh Diburu-buru

Sekarang coba bayangkan tangan seorang penenun tua, duduk berjam-jam di depan alat tenun kayu, jari-jarinya bergerak pelan menyusun benang demi benang. Motif tettong (garis berdiri tegak) dan motif makkalu (garis melintang dan melingkar) sebenarnya sederhana kalau dilihat sekilas — cuma permainan garis. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada aturan ketat yang harus dipatuhi: kain sutra untuk motif ini tidak boleh dijahit pakai mesin. Harus pakai jarum tangan, dijahit perlahan, helai demi helai.

Bayangkan risikonya kalau nekat pakai mesin jahit: susunan benang lungsi (wennang sau) dan benang pakan (bali are/sobbi) bisa tercerabut, rusak, dan kain berharga itu jadi sia-sia begitu saja. Ini menunjukkan betapa tenun sutra Bugis punya standar kerajinan yang sangat tinggi — mirip cara kolektor sepatu langka yang bisa membedakan jahitan orisinal dan tiruan hanya dengan meraba, hanya saja versi ini jauh lebih tua dan jauh lebih sarat makna budaya. Setiap kesalahan kecil dalam proses menenun bukan cuma soal estetika, tapi soal menghormati proses panjang yang sudah diwariskan turun-temurun.

Sarung Sutra Bugis

Motif Bombang: Jiwa Bahari dalam Selembar Kain

Masyarakat Bugis dikenal sebagai pelaut ulung, dan jejak identitas itu ikut terekam dalam motif bombang, yang berarti ombak. Coba bayangkan barisan segitiga sama sisi yang berjejer rapi, saling bersambungan tanpa putus, seperti gelombang laut yang datang bergantian tanpa henti. Sebenarnya kalau dilihat sekilas, bentuknya juga mirip pegunungan berbaris — motif bulu-bulu. Tapi leluhur kita tampaknya sengaja memilih nama “ombak” dibanding “bukit”, mungkin karena identitas bahari memang lebih melekat dalam jiwa masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.

Ada satu hal menarik soal kata bulu-bulu sendiri dalam bahasa Bugis: selain berarti perbukitan, kata ini juga bisa berarti sesuatu yang melekat erat, atau bulu yang tumbuh di sekujur tubuh manusia selain rambut kepala. Satu kata, banyak makna — dan pemilihan nama motif bombang menunjukkan bagaimana masyarakat Bugis dulu sangat teliti memilih kata, bahkan untuk sekadar menamai pola segitiga di atas kain.

Coba bayangkan seorang nelayan tua yang pulang melaut, duduk di depan rumah panggungnya sambil mengenakan sarung motif bombang ini, sementara di kejauhan ombak laut Sulawesi benar-benar bergulung dengan pola yang nyaris identik dengan motif di sarungnya. Ada semacam keselarasan antara apa yang dipakai di badan dan apa yang dilihat sehari-hari di laut lepas — seolah alam dan budaya saling meniru satu sama lain, membentuk lingkaran makna yang utuh.

Motif Cobo’: Simbol Diam-diam yang Semua Orang Paham

Kalau kamu tumbuh besar di lingkungan yang masih memegang adat lama, kamu mungkin ingat momen ketika seorang paman atau kakak datang ke rumah keluarga calon istrinya, mengenakan sarung dengan segitiga yang lebih ramping, lebih runcing, dibanding motif bombang. Itulah motif cobo’. Segitiganya berjejer melintang, bertemu di ujung sarung setelah dijahit, menciptakan pola tajam yang berbeda dari motif ombak yang lebih terjal, menjulang membentuk segitiga sama kaki yang sangat lancip dan runcing.

Sampai hari ini, belum ada catatan pasti soal sejarah motif ini atau siapa yang berhak memakainya. Tapi dalam praktiknya, motif cobo’ selalu identik dengan proses pendekatan sampai lamaran dalam adat Bugis. Begitu ada anggota keluarga yang datang ke sebuah acara mengenakan sarung motif ini, semua orang di kampung langsung paham: ada niat serius yang sedang berjalan. Semacam lampu hijau yang dipasang diam-diam, tanpa perlu pengumuman resmi, tanpa perlu percakapan panjang yang canggung. Bisa jadi motif ini adalah simbol keteguhan hati sang pria dan keluarganya, dituangkan dalam bentuk segitiga runcing yang seolah berkata: “kami serius, dan kami sudah siap.”

Bayangkan suasana rumah calon mempelai perempuan begitu rombongan keluarga pria datang mengenakan sarung ini — para tetua saling melirik, ibu-ibu di dapur mulai berbisik, dan tanpa ada satu kata pun terucap, semua orang sudah tahu ke arah mana pembicaraan hari itu akan bermuara.

Motif Moppang: Kenangan yang Sengaja Disembunyikan

Dari tujuh motif yang pernah ada, motif moppang adalah satu-satunya yang benar-benar punah. Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak terakhir kali motif ini terlihat, dan kemungkinan besar generasi sekarang tidak akan pernah punya kesempatan melihatnya secara langsung.

Berbeda dengan motif-motif lain yang boleh dipamerkan di acara adat, motif moppang justru tabu dipakai di luar rumah, oleh siapa pun — baik yang masih lajang, sudah menikah, maupun duda dan janda. Motif ini hanya boleh ada di dalam kamar milik pasangan yang sudah berkeluarga, disimpan rapat-rapat: kadang di lemari, dalam peti khusus, kadang di lipatan kelambu, bahkan ada yang menyembunyikannya di balik sarung bantal atau di bawah kasur.

Kenapa disembunyikan sedemikian rupa? Karena sarung ini dibuat khusus untuk proses yang disebut “siri’ dalam sarung” — momen paling personal antara suami dan istri, yang menurut kearifan lokal Bugis harus dilakukan bersama-sama di dalam satu sarung, sebuah kebiasaan yang di zaman sekarang mungkin sudah tergantikan oleh selimut. Ini bukan sekadar aturan sepele, tapi bentuk penghormatan adat Bugis terhadap harkat dan martabat perempuan.

Keintiman tidak dimaknai sebagai pergumulan nafsu semata, melainkan sebagai kewajiban dan hak yang punya tatanan dan tuntunannya sendiri, bahkan dikupas mendalam dalam sebuah kitab bernama Lontara Sebboq atau Assikalabaineng — semacam kitab percintaan khas Bugis, tidak jauh berbeda konsepnya dengan Kamasutra dari India atau Serat Centhini dari tanah Jawa. Fakta bahwa masyarakat Bugis lama sampai menulis kitab semacam ini menunjukkan betapa mereka memandang keintiman sebagai pengetahuan serius yang layak dipelajari secara terstruktur, bukan sekadar tabu yang harus dihindari — sebuah cara pandang yang sebenarnya cukup maju untuk zamannya.

Coba bayangkan proses pembuatannya: sarung ini ditenun dengan ukuran yang jauh lebih besar dari sarung biasa, satu setengah sampai dua kali lipat, dan dibuat sendiri oleh gadis Bugis menjelang hari pernikahannya. Ini adalah tenunan terakhirnya sebagai seorang gadis, karya penutup sebelum resmi menjadi seorang istri. Sarung yang dibuat untuk malam pertama, sarung motif moppang adalah sarung senggama.

Setelah dipakai, sarung ini tidak akan pernah dicuci, tidak akan pernah dijemur di area terbuka. Tidak akan pernah diperlihatkan kepada siapa pun, bahkan kepada anak sendiri. Kalau salah satu pasangan meninggal dunia atau mereka berpisah karena perceraian, sarung ini akan dibakar habis. Ada juga yang memilih menyimpannya sebagai kenangan pribadi, meski pada akhirnya tetap saja akan dimusnahkan. Tidak ada satu pun sarung moppang yang diwariskan ke generasi berikutnya — sebuah rahasia yang sengaja dibawa mati oleh pemiliknya.

Kalau diperhatikan lebih dekat, motif ini sebenarnya sangat sederhana: hanya empat larik garis, dua garis tipis mengapit dua garis yang lebih tebal. Tapi ukurannya diukur sangat presisi, garis tipisnya selebar jari telunjuk orang dewasa, garis tebalnya seukuran 5 jari orang dewasa. Ditata dengan jarak antar-garis yang juga dihitung cermat. Konon, garis tipis melambangkan sang pria, sementara lima ukuran jari pada garis lainnya melambangkan lapis-lapis pelindung tubuh perempuan yang harus pria buka saat mengajak istri masuk ke dalam sarung senggama. Lima lapis itu berlapis dari paling luar hingga paling dalam adalah; sarung tidur, baju luaran, baju dalaman, kutang dan jempa-jempa.

Semua dihitung, semua disimbolkan, tidak ada yang dibuat asal-asalan.

Kalau kita renungkan lebih jauh, filosofi di balik motif moppang justru menunjukkan betapa hati-hatinya masyarakat Bugis lama memperlakukan urusan keintiman — bukan sesuatu yang direpresi atau dianggap kotor, melainkan sesuatu yang dijaga privasinya lewat aturan dan simbol yang sangat jelas. Praktik menyimpan, bahkan memusnahkan, “sarung pengantin” semacam ini sebenarnya punya kemiripan dengan berbagai tradisi tekstil pernikahan di belahan dunia lain, tempat kain-kain tertentu dianggap sakral justru karena sifatnya yang sangat pribadi dan tidak untuk dipertontonkan siapa pun.

Dan kalau kita tarik benang merahnya, punahnya motif moppang ini sebenarnya adalah cerminan dari hal yang sama dengan hilangnya suara sarung sutra saat Salat Ied yang kita bahas di awal tulisan ini. Dua-duanya bukan hilang karena dilarang atau dianggap tidak penting, tapi karena perlahan-lahan tidak lagi diwariskan ke generasi berikutnya. Satu generasi lupa mengajarkan, satu generasi berikutnya jadi tidak pernah tahu, dan begitu seterusnya sampai akhirnya benar-benar hilang tanpa jejak.

Sarung Sutera Bugis; Menutup Mata, Membuka Kenangan

Coba sekali lagi pejamkan mata. Bayangkan lemari kayu tua di rumah kakek atau nenekmu, bayangkan aroma kapur barus yang menempel di kain-kain lama, bayangkan tangan yang membuka lipatan sarung sutra dengan hati-hati karena tahu benda itu berharga. Setiap motif yang sudah kita bahas tadi bukan sekadar corak dekoratif, tapi semacam jejak memori kolektif tentang bagaimana masyarakat Bugis dulu memaknai identitas, status, kesopanan, sampai keintiman lewat selembar kain.

Sarung sutra ini menyimpan begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab tuntas. Apakah keunikannya benar-benar cuma soal motif semata? Bagaimana ia bertahan menghadapi gempuran tren mode modern hari ini? Bagaimana sebenarnya sejarah masuknya sarung ke bumi Sulawesi? Dan apa hubungan sarung Bugis ini dengan Sarung Samarinda di Kalimantan, atau kain sutra dari Palembang? Semua ini akan kita bahas di tulisan berikutnya.

Untuk sekarang, coba luangkan waktu sebentar. Kalau di rumahmu masih ada sarung lama peninggalan orang tua atau kakek-nenek, coba buka lemari itu, coba raba teksturnya, coba amati motifnya baik-baik. Siapa tahu, di balik garis dan warnanya, tersimpan cerita yang belum sempat kamu dengar langsung dari mereka yang dulu memakainya.

Dan siapa tahu juga, kalau kamu beruntung, kamu masih sempat mendengar sendiri suara gesekan sarung sutra itu di Salat Ied berikutnya — sebuah bunyi kecil yang mungkin selama ini terlewat begitu saja, padahal ia membawa serta seluruh sejarah panjang tentang identitas, kesopanan, dan cinta yang dijaga diam-diam oleh leluhur kita.