Cara Orang Bugis Makan dan Minum, Sebuah Tinjauan Etnolinguistik.
Oleh: Suryadin Laoddang.
Disclaimer: Tulisan ini dibuat sebagai pemantik bahan diskusi semata, sangat terbuka atas kritik dan sanggahan dari para budayawan dan peneliti yang lebih kompeten. Semoga tulisan ini bisa memancing muncul penelitian lebih serius dari para peneliti dan akademisi. Sebagaimana yang terjadi pada tulisan penulis dengan tema Sarung dan Baju Bodo. Artikel ini disusun berdasarkan ingatan penulis dan diskusi dengan beberapa keluarga, kerabat dan kolega
Pendahuluan
Coba pikirkan sejenak: dalam bahasa Indonesia, kita hanya punya segelintir kata kerja — “menggigit”, “mengunyah”, “mencicipi”, “minum” — untuk menggambarkan hampir semua yang terjadi di dalam mulut saat kita makan. Coba deh cek lagi caption makan-makan di Instagram atau story kulineran teman-teman kita — paling banter tulisannya “enak banget” atau “kenyang puol”, padahal yang sebenarnya terjadi di dalam mulut jauh lebih detail dari itu. Tapi dalam bahasa Bugis satu aktivitas sesederhana “menggigit” saja punya paling tidak empat kata berbeda, tergantung siapa yang menggigit, apa yang digigit, dan bagaimana gigi itu bekerja. Ini bukan sekadar bahasa yang “kaya kosakata” — ini jejak tentang bagaimana suatu masyarakat mengalami, mengklasifikasi, dan memberi makna pada dunia inderawinya sendiri, bahkan pada sesuatu yang tampak sesepele cara mulut mengolah makanan.
Fenomena semacam ini, dalam antropologi linguistik, sering disebut sebagai lexical elaboration: semakin sering suatu domain pengalaman diperhatikan dan dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari, semakin rinci pula kosakata yang dikembangkan untuk membedahnya — mirip dengan cara masyarakat Inuit (kutub utara) dikenal punya banyak istilah untuk jenis-jenis salju, atau penutur bahasa Arab memiliki puluhan kata untuk unta pada berbagai tahap usia dan kondisi. Leksikon gerakan mulut Bugis ini tampaknya bekerja dengan logika serupa. Analoginya kurang lebih seperti anak muda sekarang yang punya puluhan istilah gaul untuk satu perasaan yang sama — makin sering sesuatu jadi bahan obrolan sehari-hari, makin banyak juga variasi kata yang lahir untuk membedah nuansanya, bukan karena bahasanya “lebay”, tapi karena hal itu memang penting untuk dibedakan secara sosial.
Yang perlu digarisbawahi sejak awal: ini masih draf kerja, bukan kamus final. Sangat terbuka peluang dikritisi oleh para pakar budaya dan pakar linguistik. 30 istilah yang terdaftar masih belum memiliki definisi yang dapat diverifikasi dari sumber mana pun yang tersedia (kamus daring, basis data terbuka). Ruang kosong itu dipertahankan secara jujur, alih-alih diisi dengan tebakan yang disamarkan sebagai data. Ini sejalan dengan prinsip dasar leksikografi lapangan: lebih baik mengakui data yang belum lengkap daripada memaksakan glossing yang justru menyesatkan pembaca di kemudian hari.
Kerangka Analisis
Ada empat sumbu pengelompokan yang digunakan dan tetap valid secara metodologis. Anggap saja ini sebagai empat “lensa” berbeda untuk melihat leksikon yang sama:
- Jenis gerakan mulut — menggigit, mengunyah, mencicipi, menyedot. Bayangkan ini sebagai empat “mode operasi” dasar mulut, mirip seperti kita membedakan “berjalan”, “berlari”, dan “melompat” sebagai jenis gerakan kaki yang berbeda.
- Tekstur dan kekerasan objek — keras (biji-bijian) vs lunak (buah-buahan, berair). Bayangkan biji jagung yang disangrai di satu ujung spektrum, dan daging buah pir yang lunak di ujung lainnya — dua tekstur yang menuntut kata kerja berbeda.
- Kapasitas fisiologis pelaku — kondisi gigi (utuh, ompong, gigi palsu, gusi saja), yang menempatkan usia/tahap hidup sebagai penanda leksikal. Di sinilah letak keunikannya: bahasa Bugis mengunci kondisi tubuh si pengunyah langsung ke dalam pilihan kata kerja. Di banyak bahasa lain, gagasan “mengunyah pelan-pelan karena gigi sudah tidak lengkap” perlu satu kalimat penuh untuk dijelaskan; dalam bahasa Bugis, cukup satu kata.
- Fungsi sosial-budaya — praktik pengasuhan (menyuapi anak) dan pengobatan tradisional. Dimensi ini yang paling jelas mempertemukan bahasa dengan praktik hidup sehari-hari — nanti akan terlihat betapa kayanya makna di balik istilah seperti mota dan oca.
1. Kategori Menggigit
1.1 Ikking
Menggigit dengan gigi depan (gigi seri). Ini gerakan yang paling kita kenal sehari-hari — seperti menggigit ujung roti atau menggigit apel langsung dari buahnya.
- Dalam konteks makan, gerakan ini dilakukan untuk memotong, membelah, atau mengambil sebagian kecil (cuil) makanan.
- Dalam konteks perkelahian, gerakan ini dilakukan untuk memberi rasa sakit pada lawan, biasanya menggigit lengan, bahu, jari, paha, hidung, atau telinga, dengan durasi singkat. Semacam “gigitan cepat” yang meninggalkan bekas ringan, bukan luka serius.
- Dalam konteks gerakan hewan, biasanya dilakukan anjing dengan menggigit bagian betis atau lengan manusia atau hewan lainnya.
1.2 Okko
Menggigit atau menancapkan gigi belakang (gigi geraham) ke suatu benda atau makanan secara tegas, untuk menahan atau mencengkeram. Kalau ikking itu “gigitan cepat”, okko lebih mirip “gigitan penjepit” — pikirkan cara induk kucing menggigit tengkuk anaknya untuk memindahkannya; gerakan otot rahang yang serupa juga dipakai untuk melumpuhkan musuh.
- Dalam konteks makan, dilakukan untuk mencuil potongan hingga muncul bunyi “kroak”, mematahkan benda tersebut.
- Dalam konteks orang berkelahi, ini dilakukan dengan menggigit bagian tubuh tertentu seperti pada gerakan ikking, bedanya di durasi waktu. Jika ikking berdurasi singkat, okko cenderung lebih lama sehingga meninggalkan bekas luka, bahkan berdarah.
- Dalam konteks hewan, dilakukan hewan tertentu seperti anjing, kucing, dengan menggigit leher manusia atau hewan lain dari arah belakang. Jika itu musuhnya, dilakukan untuk melemahkan atau mengalahkannya. Jika itu anaknya, dilakukan induknya untuk mengamankan atau memindahkan anaknya ke tempat lain.
1.3 Tua’
Menggigit atau memotong bagian kecil dari makanan/benda keras dengan pengerahan tenaga gigi yang kuat. Dalam konteks makan, dilakukan untuk memotong makanan panjang seperti tebu, timun, atau singkong. Bayangkan cara orang menggigit langsung batang tebu di pasar tradisional — perlu tenaga rahang yang jauh lebih besar dibanding sekadar menggigit apel. Dalam konteks perkelahian, dilakukan dengan menggigit jemari kaki, jemari tangan, telinga, dan hidung lawan.
1.4 Seppa
Menggigit dengan gerakan cepat, menyambut makanan yang terjatuh dengan mulut; terkam, seperti gerakan hewan buas menangkap mangsa. Kata ini menangkap citra visual yang sangat spesifik — seperti anjing menangkap bola di udara, buaya menangkap ayam yang dilemparkan mengarah padanya, atau seseorang yang refleks menangkap kacang yang jatuh (sebelumnya memang sengaja dilemparkan) dengan mulutnya sebelum menyentuh lantai.
2. Kategori Mengunyah
2.1 Kecca
Memasukkan makanan ke dalam mulut, lalu melakukan gerakan mengunyah secara berulang-ulang dalam beberapa waktu. Fungsinya untuk melunakkan makanan, agar mudah masuk tenggorokan. Berlaku untuk makanan keras, sedang, dan lunak, hingga yang berkuah. Bisa dibilang, kecca adalah kata paling “netral” dan paling umum dipakai dalam kategori ini — semacam kata dasar “mengunyah” versi generik yang belum terikat pada tekstur, usia, atau konteks sosial tertentu, berbeda dengan istilah-istilah lain di bawah ini yang jauh lebih spesifik dan sarat makna.
2.2 Ceppa
Mengunyah makanan hingga menghasilkan suara. Di masyarakat, aktivitas ini dianggap tidak sopan. Menariknya, penilaian moral “sopan-tidak sopan” ini sudah tertanam dalam maknanya sendiri — sebuah kontras menarik jika dibandingkan dengan budaya Jepang, yang punya konsep serupa untuk suara makan mi, namun justru dianggap tanda menikmati hidangan, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
2.3 Gareppu
Mengunyah makanan bertekstur keras/biji-bijian, dengan menghancurkan lebih dulu memakai gigi geraham. Contoh: jagung setengah muda yang disangrai, kacang tanah goreng yang bagian dalamnya masih agak keras, atau kue keciput yang dihancurkan saat lebaran.
2.4 Garecca
Mengunyah makanan bertekstur lunak, dengan menghancurkan lebih dulu memakai gigi geraham. Contoh: belimbing, cabai, kesambi, apel, buah pir, jambu biji — pada umumnya buah-buahan segar yang baru dipetik dari kebun.
2.5 Galero
Mengunyah biji-bijian bertekstur keras dengan gerakan ringan/perlahan; khas dilakukan oleh yang giginya tidak utuh, ompong, atau memakai gigi palsu, juga pada anak yang giginya belum tumbuh sempurna. Bayangkan seorang nenek mengunyah kacang sangrai pelan-pelan karena gigi palsunya, atau balita yang baru punya dua gigi mencoba mengunyah biskuit keras — dua gambaran usia yang jauh berbeda, tapi dijelaskan dengan satu kata yang sama.
2.6 Galemo
Mengunyah makanan bertekstur sedang (tidak keras, tidak juga lunak), biasanya dilakukan orang tua jompo yang sudah tidak punya gigi, hanya memakai gusi. Kata ini seolah menjadi penanda linguistik untuk tahap akhir kehidupan — leksikon yang mengikuti siklus hidup manusia, dari gigi susu sampai gusi yang kosong.
2.7 Kengnya
Mengunyah dengan mengulum, meresapi, atau membiarkan makanan di mulut beberapa saat tanpa langsung ditelan, untuk menikmati rasanya. Seperti cara seseorang menahan sepotong cokelat di mulut agar rasanya meleleh perlahan, alih-alih langsung dikunyah habis.
2.8 Garutu
Mengunyah makanan kering dan sangat keras hingga berbunyi gemeretak nyaring, dengan gigi belakang (gigi geraham). Kerupuk kulit yang sangat garing, atau tulang rawan ayam goreng yang renyah, adalah contoh sehari-hari yang cocok dengan kata ini.
2.9 Commii
Mengisap-isap sesuatu yang kecil/manis di permukaan mulut atau lidah. Misal mengisap permen, madu, atau tulang-tulang yang telah dimasak seperti tulang dalam masakan konro. Gerakan ini mirip cara anak kecil mengisap lolipop — hanya saja dalam konteks Bugis, tulang sisa masakan konro yang gurih pun jadi objek yang sama layak diisap.
2.10 Kekke
Dalam konteks manusia, menggigit sedikit demi sedikit pada bagian pinggir makanan keras secara bertahap, lalu dicuwil dan selanjutnya dihancurkan dengan gigi geraham dan ditelan. Paling umum juga dilakukan anak remaja saat musim mangga, mengupas mangga dengan giginya lalu melahap dagingnya tanpa bantuan pisau, 100% menggunakan gigi mereka.
Dalam konteks hewan, ini adalah gerakan mengerat dengan menggigit kecil-kecil berulang (nibbling) atau mengunyah ringan seperti tikus, kelinci, tupai pada makanan keras atau berkulit keras, seperti kelapa, umbi-umbian. Istilah ini menjembatani dunia manusia dan hewan dalam satu kata — perilaku “menggerogoti” yang sama dipakai baik untuk orang yang mengunyah tepi kerupuk pelan-pelan maupun tupai yang mengerat batok kelapa.
2.11 Pametta
Menggigit dengan paksa dengan menahan, makanan alot atau keras, untuk memotong atau memecahkan cangkangnya sehingga menghasilkan bunyi gemeretak atau bunyi patah. Bayangkan usaha memecah cangkang kepiting atau kacang mede dengan gigi, karena kebetulan tidak ada alat pemecah di tangan.
2.12 Mota
Mengunyah, lalu melumat dan mengulum bahan obat-obatan herbal di mulut tanpa langsung ditelan, untuk melembutkannya. Biasanya ini melahirkan tiga aktivitas lanjutan:
- Dilakukan terus-menerus pada orang yang sedang mengunyah pinang, untuk merawat gigi dan kesehatan mulut. Dibuang jika pinang sudah hambar dan menyisakan serat kasar. Di masyarakat Bugis disebut mammiccu ota.
- Dimuntahkan pada wadah khusus sebagai bahan dasar pengobatan tradisional, biasanya dicampurkan air bertuah (wae jappi, wae tawe’) atau air tawar (wai lawi) untuk air mandi atau basuh tubuh.
- Dikeluarkan kembali dengan disemburkan (papporo’) pada arah badan tertentu sebagai obat tradisional.
- Dikeluarkan kembali dengan disemburkan (papporo’) pada area mata anak, sebagai bentuk hukuman pada anak yang susah diatur. Biasanya dilakukan orang tua pada anaknya, dengan bahan yang dikunyah berupa jahe muda.
Istilah mota ini barangkali yang paling kaya secara antropologis dari seluruh leksikon ini, karena ia menghubungkan tindakan fisiologis mulut dengan sistem pengobatan tradisional, ritual, sekaligus disiplin pengasuhan anak — tiga ranah yang di banyak budaya lain dipisahkan secara tegas, tapi di sini menyatu dalam satu kata kerja.
2.13 Oca
Menghancurkan makanan dengan mulut, lalu dikeluarkan kembali untuk diberikan kepada anak (cara menyapih, biasa dilakukan ibu); juga dipakai dalam pembuatan obat tradisional. Praktik premastication semacam ini dikenal luas dalam antropologi pengasuhan anak lintas budaya — ibu-ibu di banyak masyarakat tradisional di dunia melakukan hal serupa sebelum bayi punya gigi untuk mengunyah sendiri, sebuah bentuk transfer nutrisi sekaligus kedekatan fisik antara ibu dan anak.
3. Kategori Mencicipi
3.1 Leepe
Mencicipi makanan atau minuman pada ujung jari yang sebelumnya telah dicelupkan pada makanan/minuman tersebut. Kadang juga dengan menjilat sisa makanan pada jemari, atau pada wadah makanan/minuman. Gerakan ini akrab dalam konteks memasak — seorang ibu yang mencicipi kuah dengan ujung sendok sebelum menyajikannya ke keluarga, sebuah ritual kecil yang menandai tanggung jawab dan penguasaan rasa di dapur.
Menarik untuk dicatat, kategori Mencicipi ini yang paling “kurus” dari segi jumlah istilah — hanya satu kata, dibanding dua belas kata untuk Mengunyah. Ini sebenarnya bukan kebetulan: dalam kerangka lexical elaboration, jumlah kosakata suatu domain biasanya sebanding dengan seberapa besar domain itu perlu dibedakan secara sosial. Menggigit dan mengunyah berkaitan langsung dengan kondisi tubuh, usia, dan bahkan pengobatan — jadi wajar jika lebih rinci. Sementara mencicipi adalah aktivitas yang lebih personal dan sekilas, biasanya dilakukan sendirian di dapur, sehingga tidak terlalu butuh banyak variasi kata untuk membedakannya di ruang publik. Bisa jadi juga, ini adalah salah satu “ruang kosong” yang disebutkan di awal tulisan — istilah-istilah lain untuk mencicipi mungkin memang ada, tapi belum berhasil terdokumentasikan dalam artikel ini.
4. Kategori Minum
4.1 Minung
Gerakan umum dari aktivitas minum yang diikuti gerakan mulut lainnya, seperti dibahas dalam kategori ini. Membuka mulut lalu meletakkan bibir wadah minuman pada bibir manusia, mengalirkan atau menuangkan minuman itu dengan perlahan, untuk dimasukkan ke mulut, lalu ke tenggorokan dan akhirnya ditelan.
4.2 Mimmii
Meminum dengan menyedot memakai bibir langsung ke pinggiran wadah seperti piring, cangkir, gelas dan mug. Cara paling umum minum dari gelas dalam kehidupan sehari-hari.
4.3 Nyoro’
Meneguk cairan dalam jumlah banyak sekaligus, atau mendorong minuman masuk langsung ke kerongkongan. Bayangkan seseorang yang sangat kehausan menghabiskan segelas air dalam satu tegukan panjang tanpa jeda.
4.4 Iro’
Meminum atau menghisap cairan dengan suara (slurping) atau menyedot kuat-kuat dan bersuara. Bibir atas terangkat atau membuka ke atas — celah besar di atas, aliran cairan masuk deras dari sisi atas. Udara dan cairan masuk bersamaan lewat celah lebar, melahirkan turbulensi di rongga mulut depan, ditutup singkat oleh smack bibir. Bunyi kasar, bergolak, agak panjang, diakhiri hentakan bibir sehingga lahir suara “hurppl”.
Wujudnya seperti menyeruput mi kuah panas-panas, atau menghirup kopi langsung dari cangkir atau piring lepek dengan suara khas, yang di beberapa budaya Asia justru menandakan kenikmatan, bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.
4.5 Isoo
Meminum atau menghisap cairan dengan suara (slurping) atau menyedot kuat-kuat dan bersuara. Bibir atas dan bawah mengatup dengan bukaan celah di tengah. Cairan disedot lewat celah sempit melahirkan aliran laminar, gesekan udara terus-menerus, ditutup oleh kontak lidah/gigi di ujung. Bunyi mendesis, kontinu, lalu berhenti tajam melahirkan suara “hisssttt”.
Selain hirup langsung dengan bibir, juga kadang memakai sedotan. Biasanya untuk minuman segar seperti air kelapa muda atau minuman manis lainnya.
4.6 Nyonnyoo
Mengisap makanan kenyal seperti cendol, isi perut kepiting, isi siput/kerang. Bibir maju dan membundar seperti paruh bebek saat cari makanan di sawah atau kubangan air, gerakan berulang menarik-narik. Bukan sekali sedot, tapi tarikan berulang — bibir “mengunci” objek lalu menariknya keluar, ada tahanan karena tekstur kenyal. Bunyi basah, berulang, ada tahanan di awal sebelum lepas, sehingga melahirkan suara “sruppp”.
4.7 Tonga
Meminum air dengan membuka mulut untuk memasukkan air ke mulut, posisi air atau wadah air berada di atas. Baik itu gelas, bumbung bambu, teko, ceret, air mancur, air terjun, air hujan, atau air yang mengalir dari atas.
5. Kategori Lainnya
5.1 Manre
Gerakan umum dari aktivitas makan, yang diikuti dengan semua gerakan mulut di atas. Gerakannya dengan membuka mulut untuk menerima suapan makanan, baik yang disuap dengan tangan maupun dengan sendok dan sejenisnya. Bisa dibilang, manre adalah kata payung — versi umum dari “makan” yang menaungi seluruh gerakan spesifik di atas, dipakai kapan pun konteksnya tidak butuh detail teknis tentang bagaimana persisnya mulut bekerja.
5.2 Patettiwi
Ini adalah aktivitas minum atau makan yang perlu bantuan orang lain. Dilakukan pada orang yang sedang sakit dan sudah susah membuka mulut, dilakukan dengan meneteskan minuman atau makanan sangat lunak seperti bubur, kaldu, air kuah, sirup, madu, obat sirup, obat herbal, dan sejenisnya. Istilah ini menempatkan mulut bukan cuma sebagai alat makan pribadi, tapi juga sebagai titik temu relasi merawat — biasanya dilakukan oleh anggota keluarga terdekat, mirip dengan semangat gotong royong dalam praktik oca dan mota yang dibahas sebelumnya.
5.3 Solong
Aktivitas memasukkan makanan seperti kepalan nasi atau sekerat pisang ke dalam mulut, langsung ditelan tanpa dikunyah. Dilakukan untuk mengatasi duri ikan yang tersangkut di tenggorokan. Ini semacam versi tradisional dari pertolongan pertama rumahan — trik yang mungkin masih diwariskan turun-temurun di banyak keluarga Bugis sampai sekarang, jauh sebelum orang mengenal istilah medis untuk benda asing di tenggorokan.
5.4 Suluu
Aktivitas memasukkan minuman dalam jumlah banyak, dilakukan untuk mengatasi seseorang yang tersedak makanan. Logikanya mirip dengan Solong yang dibahas sebelumnya — bedanya, kalau Solong menggunakan makanan padat (nasi kepal atau pisang) untuk mendorong duri ikan yang tersangkut, Suluu memakai cairan dalam jumlah banyak untuk mendorong turun makanan yang tersedak di kerongkongan. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa masyarakat Bugis punya semacam “protokol darurat” lisan untuk masalah tenggorokan sehari-hari, jauh sebelum istilah pertolongan pertama modern seperti manuver Heimlich dikenal luas. Bedanya, kalau manuver Heimlich bekerja dari luar tubuh (menekan perut), Suluu dan Solong bekerja dari dalam mulut itu sendiri — pendekatan yang berbeda, tapi tujuannya sama: membebaskan jalan napas atau jalan makan yang tersumbat.
5.5 Waluu
Aktivitas ini sudah jarang ditemui saat ini. Ini adalah aktivitas yang mempertaruhkan nyawa, sakral. Dilakukan untuk membantu seseorang yang baru sadar dari pingsan lama, baru sadar dari mati suri, atau baru selesai menjalani pertapaannya. Karena perut kosong untuk jangka waktu yang lama, maka tidak boleh langsung diisi dengan makanan atau minuman, meski itu makanan super lembut atau hanya sekadar air.
Maka dibawalah beberapa makanan dalam baki besar, air minum aneka rasa dan aroma dalam loyang. Objek manusia dibuat duduk bersila, lalu baki dan loyang tadi diputarkan di depan hidungnya, dengan mengibaskan uap makanan dan minuman ke arah hidungnya. Dilakukan hingga tujuh kali, secara berulang. Diikuti dengan ipatettiwi air minum, kuah, dan bubur yang dimasak dengan laku spiritual khusus.
Waluu adalah istilah yang paling menunjukkan bahwa bagi masyarakat Bugis, mulut bukan sekadar pintu masuk makanan, melainkan gerbang yang harus dibuka kembali secara hati-hati setelah tubuh melewati ambang batas antara hidup dan mati. Ritual serupa — memperkenalkan kembali makanan secara perlahan dan simbolis setelah kondisi ekstrem seperti puasa panjang, sakit berat, atau mati suri — juga ditemukan di berbagai tradisi lain di dunia, menunjukkan bahwa kekhawatiran atas “membangunkan” kembali sistem pencernaan setelah masa kosong yang lama tampaknya menjadi kearifan yang muncul berulang di berbagai kebudayaan, meski dengan tata cara yang berbeda-beda. Sekedar informasi, orang yang sakratul maut, tidak lagi bisa disuapi makan atau minuman, dalam basaha Bugis disebut Ipawalung.
Catatan Penutup untuk Cara Orang Bugis Makan dan Minum
Kalau ditarik satu benang merah dari seluruh leksikon ini: bahasa Bugis tidak memandang mulut hanya sebagai alat makan. Mulut adalah organ sosial — tempat kesopanan diuji (ceppa), tempat usia dan kondisi tubuh terekam (galero, galemo), tempat kasih sayang disalurkan (oca), dan tempat pengobatan tradisional bermula (mota).
Dari artikel “Cara Orang Bugis Makan dan Minum” ini, masih banyak sajian deskripsi yang belum lengkap dalam artikel ini, itu bukan kelemahan yang harus ditutup-tutupi, melainkan undangan terbuka bagi penutur asli dan peneliti lain untuk melengkapi istilah yang belum tercatat, atau menyempurnakan yang sudah ada. Ini sebuah pekerjaan etnolinguistik yang jelas belum selesai, dan justru di situlah letak nilainya.
Jadi, kalau kamu penutur asli bahasa Bugis, atau punya nenek/kakek yang masih sering pakai istilah-istilah ini, coba deh tinggalkan komentar atau koreksi. Bisa jadi ada kata yang kelewatan, atau maknanya sedikit berbeda dari yang tertulis di sini. Justru dari diskusi santai semacam itulah kekayaan bahasa daerah kita bisa terus terdokumentasikan, bukan cuma tinggal jadi kenangan generasi sebelumnya. Semoga tidak punah.
Untuk diskusi, silahkan hubungi saya. Suryadin Laoddang di wa.me/6281327087397
