Anak Akuntansi kok nulis? Mending belajar neraca! Itu kalimat yang paling sering gue dengar waktu di SMK. Iya, gue anak jurusan Akuntansi. Setiap hari neraca, debet kredit, jurnal umum, laporan keuangan. Angka-angka. Rumus-rumus. Buku besar yang bikin kepala pusing.

Dan di sekolah kejuruan, anak-anaknya dididik jadi akuntan, jadi staf keuangan, jadi pegawai administrasi. Bukan buat nulis. Bukan buat jadi penulis. Apalagi buat tembus ke koran nasional. Itu dunia orang SMA, kata mereka. Dunia anak sastra, anak IPS. Bukan dunia gue yang tiap hari berkutat dengan angka.
Tapi gue punya mimpi yang gak masuk akal. Seorang anak akuntansi yang lebih suka merangkai kata daripada merangkai angka.
Gue pengen nama gue muncul di koran. Bukan koran lokal. Koran nasional. Dengan artikel yang gue tulis sendiri. Dengan kata-kata yang gue rangkai di kamar sempit kosan, di atas meja kayu yang lapuk, ditemani mesin ketik tua pemberian ibu. Sementara teman-teman gue sibuk menghitung depresiasi aset, gue sibuk menghitung jumlah kata yang bisa masuk ke kolom opini.
Dan gue gagal. Berkali-kali. Berkali-kali. Berkali-kali.
Tapi cerita gak berhenti di situ.
Jatuh Cinta Pertama Kali: Sama Mesin Ketik
Gue masih inget jelas pertama kali gue megang mesin ketik. Mesin ketik di ruang laboratorium mengetik di SMK-ku, di Kota Sengkang, 5 jam dari Makassar. Mesin ketik itu berat. Tua. Beberapa tutsnya macet. Tapi waktu jari gue mulai menekan huruf-huruf itu, ada sesuatu yang bergetar di dada gue. Bukan karena mesinnya—tapi karena kata-kata yang mulai terbentuk di atas kertas. Rasanya beda banget sama waktu gue ngerjain jurnal penyesuaian. Angka cuma angka. Tapi kata-kata… kata-kata punya nyawa.
Gue nulis tentang pengalaman sebagai anak yatim piatu. Gue nulis tentang guru yang galak tapi baik hati. Gue nulis tentang mimpi-mimpi kecil yang gak ada hubungannya sama debet kredit. Tapi yang paling sering gue tulis adalah tentang kegelisahan—tentang jadi anak SMK yang gak tau mau kemana, tentang orang tua yang berharap gue jadi akuntan, tentang hati yang bisikannya lain.
Dan gue kirim ke redaksi koran. Baliknya? Surat penolakan.
“Naskah Saudara kurang berbobot untuk dimuat.”
Gue baca sekali. Dua kali. Sepuluh kali. Dan gue nangis di kamar berdiding bambu, rumah panggung peninggalan Ayahku. Tapi gue gak berhenti.
Lima Tahun Perjuangan: Dari Bulletin Sekolah Sampai Koran Nasional
Tahun Pertama: SMA. Bulletin Sekolah dan Mading.
Gue masih inget tulisan pertama gue dimuat di bulletin sekolah. Isinya tentang pentingnya literasi keuangan sejak dini—karena gue anak akuntansi, ya gue nulis tentang uang. Gak ada yang baca sih, soalnya bulletin sekolah cuma ditempel di mading. Tapi gue bangga. Nama gue ada di kertas yang ditempel di tembok. Itu awal yang kecil. Tapi itu nyata.
Lalu gue ikut eskul jurnalistik. Yang lain milih eskul yang sesuai jurusan, gue milih eskul yang gak ada hubungannya sama akuntansi. Di sana gue nulis lebih bebas. Tentang kehidupan sekolah. Tentang guru-guru. Tentang teman-teman. Tulisan gue mulai dibaca orang sekelas, lalu satu sekolah. Orang mulai kenal gue bukan sebagai “anak akuntansi yang pinter hitung”, tapi sebagai “anak akuntansi yang suka nulis.” Aneh. Tapi gue suka.
Lalu gue berani ngirim ke bulletin pesantren di ibu kota provinsi, di Makassar. Dan ternyata dimuat. Tulisan gue tentang “Belajar dari Kesabaran Santri” dimuat di bulletin pesantren itu. Gue senang bukan main. Sebuah pesantren favorite —sekolah orang lain—mau memuat tulisan gue. Rasanya kayak diakui di dunia yang bukan milik gue.
Tahun Kedua: Kelas 2 SMK. Koran Lokal dan Majalah Lokal.
Ini yang paling berat. Koran lokal di kota gue itu kayak gerbang menuju dunia yang lebih besar. Gue kirim. Gak dimuat. Kirim lagi. Gak dimuat. Gue hampir menyerah. Tapi suatu hari, seorang redaktur koran lokal nelpon gue. “Nak, tulisanmu bagus. Tapi masih perlu perbaikan di sini dan sini.” Dia ngajarin gue. Satu jam di telepon. Gak kenal gue. Gak tau gue siapa. Tapi dia ngajarin. Karena dia, tulisan gue akhirnya dimuat di koran lokal. Pertama kali. Dan gue nangis lagi.
Dari koran lokal, gue mulai berani ngirim ke majalah lokal. Bedanya? Majalah punya sirkulasi lebih luas. Gaya bahasanya juga beda. Gue harus belajar lagi. Ditolak lagi. Belajar lagi. Sampai akhirnya nama gue muncul di majalah lokal.
Tahun Ketiga dan Keempat: Mahasiswa. Koran Nasional, Tabloid, Majalah Nasional.
Dan tibalah hari itu di tahun ketiga perjuangan gue. Gue gak tau persis tanggalnya. Tapi gue masih inget pagi itu. Seorang teman bawa koran dan teriak-teriak di depan kosan.
“Adin! Nama lu ada di koran! Beneran! Koran nasional!”
Gue ambil koran dari tangan dia. Jari gue gemetar. Gue buka halaman opini. Dan di pojok kanan bawah, kolom kecil, ada nama gue. Suryadin Laoddang. Bareng judul artikel yang gue tulis tiga bulan lalu, tentang “Indonesia Darurat Nomor Telepon Darurat.
Gue gak bisa ngomong. Gue cuma bisa nangis.
Dari kamar sempit kosan di belakang TVRI Yogyakarta, dari ketikan dengan aplikasi Word Start dan printer berpita merk Epson LX-800, dari puluhan penolakan—akhirnya nama gue tercetak di koran nasional. Gue udah jadi mahasiswa. Dan gue masih nulis. Masih ngirim. Masih ditolak. Dan akhirnya dimuat.
Malam itu gue telepon ibu. “Bu, anak ibu nulis di koran nasional, dapat honor.” Ibu diam sebentar. Lalu menangis di ujung telepon. “Ibu bangga, Nak.”
Dari situ, pintu mulai terbuka. Gue mulai ngirim ke tabloid nasional. Gaya nulisnya beda lagi—lebih populer, lebih ringan. Gue belajar dari nol. Ditolak lagi. Tapi gue udah biasa ditolak. Dan akhirnya, nama gue muncul di tabloid nasional.
Tahun Kelima: Mahasiswa Akhir. Majalah Nasional, Buku Antologi.
Ini puncak yang gak pernah gue bayangkan di awal perjuangan. Majalah nasional dengan sirkulasi jutaan. Tulisan gue dibaca orang-orang di seluruh Indonesia. Gue mulai dapat surat dari pembaca. Ada yang bilang terinspirasi. Ada yang bilang mau belajar nulis juga.
Dan di tahun kelima, gue diajak gabung dalam buku antologi. Nama gue ada di sampul buku, bareng penulis-penulis lain yang udah lebih dulu terkenal. Gue nangis lagi—kali ini karena gue sadar, tulisan gue bukan cuma buat gue. Tapi bisa ngaruh ke orang lain.
Lima tahun. Dari bulletin sekolah yang gak ada yang baca, sampai majalah nasional. Dari mesin ketik tua, sampai buku antologi. Lima tahun penuh air mata, penolakan, dan keyakinan yang kadang hampir padam.
Dari Nulis Buku Jadi Daftar Pustaka Jurnal Internasional: Gak Pernah Nyangka
Dan cerita gak berhenti di situ. Gue gak nyangka, di usia yang gak muda lagi, gue bakal ngerasain yang namanya nulis buku. Bukan satu. Puluhan buku. Awalnya jadi editor tulisan dan buku orang lain. Lalu lahirlah antologi-antologi dengan penulis lain. Hingga solo book sendiri. Nama gue ada di sampul. Orang-orang baca buku gue. Dan gue nangis—lagi—karena dari anak SMK akuntansi yang cuma bisa nulis di mading sekolah, sekarang gue punya buku sendiri.

Tapi yang paling gak masuk akal adalah ini:
Bertahun-tahun kemudian, gue diundang jadi narasumber di beberapa kajian, penelitian, FGD dan sejenisnya. Artikel ilmiah. Jurnal internasional. Dan di daftar pustaka, ada nama gue. Ada buku gue. Ada tulisan gue yang dikutip oleh akademisi dari dalam dan luar negeri.
Gue baca sendiri. Jurnal internasional, bahasa Inggris, daftar pustaka, ada nama Suryadin Laoddang. Ada buku gue yang dikutip. Buku gue jadi rujukan perpustakaan nasional dan internasional, buku gue dibedah di kementrian, di istana negara.
Gue duduk di kursi, melihat layar laptop, dan gue nangis. Sepanjang hidup, gue gak pernah bayangin—anak SMK akuntansi yang dulu cuma bisa ngetik di mesin ketik tua—namanya ada di jurnal internasional. Diajak jadi narasumber penelitian. Dikutip akademisi luar negeri. Dijadikan rujukan pengambil kebijakan selevel menteri di istana negara dan Gedung Senayan
Dan gue sadar: semua penolakan, semua air mata, semua usaha ngetik sampai jari keriting—itu semua gak sia-sia. Lima tahun perjuangan dari bulletin sekolah ke koran nasional. Dan puluhan tahun setelahnya, dari koran nasional ke jurnal internasional. Tapi perjalanan gue baru saja dimulai.
Masuk Dunia Digital: Gue Jadi Orang Paling Kuno di Ruangan
Bertahun-tahun kemudian, gue memutuskan masuk dunia digital marketing. Usia gue udah kepala 3 kala itu. Sementara anak-anak muda di sekitar gue udah jago Facebook Ads, udah paham algoritma, udah bisa bikin konten yang viral.
Gue? Masih bingung bedain reach sama impression. Jari gue lebih terbiasa ngetik di mesin ketik daripada di keyboard laptop. Gue merasa kuno. Tertinggal. Gak pantes.
Dan gue gagal lagi.
Konten pertama gue cuma dilihat lima orang. Tiga di antaranya keluarga sendiri. Iklan pertama gue boncos. Uang habis, order nol. Gue mikir, “Mending gue balik nulis aja deh. Ini bukan dunia gue.”
Tapi malam itu, gue duduk di lantai lagi. Kayak puluhan tahun lalu, waktu surat penolakan berserakan. Cuma sekarang, di sekeliling gue bukan amplop, tapi screenshot dashboard iklan yang merah semua.
Dan gue inget lagi perjuangan gue dulu. Gue inget lima tahun itu. Gue inget bulletin sekolah yang gak ada yang baca. Gue inget mading yang cuma ditempel di tembok. Gue inget surat penolakan bertumpuk. Gue inget guru-guru yang bilang “anak akuntansi kok nulis.”
Dan gue dengar suara kecil yang sama: “Lu udah ngerasain ditolak puluhan kali, sekarang mau berhenti cuma karena iklan boncos?”
Besoknya gue bangun, buka laptop, dan mulai dari nol.
Pelajaran dari Lima Tahun Perjuangan dan Sebuah Mesin Ketik Tua
Dari pengalaman gagal dan bangkit itu, gue nangkep satu pola. Ada empat hal yang harus tumbuh bareng-bareng.
Pertama, pengetahuan. Gue dulu belajar nulis dari baca koran dan majalah bekas. Sekarang kalian bisa belajar dari YouTube, TikTok, kursus online. Kalian lebih beruntung dari gue. Tapi hati-hati: nonton tutorial gak otomatis bikin kalian paham. Gue bisa baca ratusan artikel, tapi kalau gak pernah nulis, ya percuma.
Kedua, keterampilan. Skill nulis gue gak bakal naik kalau gue cuma baca. Gue harus nulis setiap hari. Sering jelek. Sering gak nyambung. Tapi gak peduli. Sama kayak digital marketing: eksekusi, eksekusi, eksekusi. Gak peduli hasilnya jelek. Yang penting gerak.
Ketiga, sikap. Ini yang paling berat. Waktu artikel gue ditolak, gue bisa aja nyalahin redakturnya. Tapi gue milih baca lagi tulisan gue, bandingin sama yang dimuat, dan cari bedanya. Itu yang bikin gue makin baik. Begitu juga kalau konten kalian dikritik. Jangan langsung marah. Anggap itu data.
Keempat, karakter. Ini yang paling dalam. Ini soal: kalau gak ada yang lihat, kalian tetap usaha gak? Waktu gue nulis di kamar kosan, gak ada yang tau. Gak ada yang nge-like. Gak ada yang komen. Tapi gue tetap nulis. Bukan karena gue pengen pujian. Tapi karena gue pengen jadi orang yang konsisten. Karakter ini yang bikin gue gak mudah goyah sampai sekarang.
Dua Dunia Yang Gak Boleh Diabaikan
Di tengah perjalanan, gue juga belajar satu hal dari guru-guru gue: ilmu itu gak cuma buat hidup di dunia. Tapi juga buat bekal di akhirat. Keduanya gak bisa dipisah.
Jadi waktu gue mulai serius di digital marketing, gue selalu ingetin diri sendiri: ini bukan sekadar cari uang. Ini muamalah. Ini ibadah kalau caranya bener. Niatnya jujur, gak nipu, gak bohong.
Dan karena itu, gue juga jaga tiga hal duniawi yang gak boleh ketinggalan:
Kesehatan. Gue dulu pernah begadang terus sampe sakit. Tiga hari di rumah sakit, sementara bisnis gue berantakan. Hasilnya? Gak fokus. Gak produktif. Percuma punya strategi canggih kalau badan gak bisa diajak kerja sama.
Keuangan. Jago jualan tapi uangnya abis gak jelas, ya sama aja bohong. Gue belajar dari kesalahan gue dulu: closing oke, tapi manajemen keuangan berantakan. Omzet naik, dompet kosong. Ini pelajaran dari jurusan akuntansi gue—yang gak pernah gue pake di kantor, tapi gue pake di hidup.
Keluarga. Ini yang paling gue sesali. Gue pernah hampir rusak hubungan sama orang tua karena sibuk sendiri. Gue sibuk ngejar angka, lupa mereka cuma pengen ngobrol. Gue bersyukur masih ada waktu buat memperbaiki.
Empat Kebiasaan Kecil Yang Mengubah Segalanya
Pertama, gue jaga asupan informasi. Dulu gue baca koran dan majalah setiap pagi. Sekarang gue pilih-pilih konten yang gue konsumsi. Gak asal scroll. Gue follow akun-akun yang ngajarin hal berguna. Karena apa yang kalian konsumsi setiap hari, dalam tiga bulan akan menentukan siapa kalian.
Kedua, gue pilih circle dengan sadar. Gue punya teman-teman yang bisa diajak diskusi serius. Tapi gue juga punya mentor—orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Kalau lagi down, gue curhat ke mereka. Jangan salah pilih teman. Orang yang terus bilang “ah gak bakal bisa” cuma akan ngerusak mental kalian.
Ketiga, gue action kecil-kecilan. Gak harus langsung bikin konten viral. Mulai dari satu caption, satu diskusi, satu obrolan sama calon pembeli. Biar terbiasa. Gak perlu sempurna. Yang penting jalan. Kayak waktu gue mulai nulis: gak langsung kirim ke koran nasional. Mulai dari bulletin sekolah. Butuh lima tahun.
Keempat, yang paling sering dilupakan: gue jaga makan, minum, dan tidur. Gue dulu suka begadang dan makan sembarangan. Sekarang gue atur. Karena gue sadar: mental yang kuat butuh fisik yang sehat. Gak bisa otak jernih kalau perut diisi indomie terus.
Perjalanan Dari Mimpi Sampai Legowo
Semua berawal dari himmah. Api dalam dada. Dulu api itu adalah keinginan gue buat namanya muncul di koran. Gue rela ngetik ulang puluhan kali. Gue rela naik angkot ke kantor pos. Gue rela ditolak berkali-kali. Karena apinya menyala. Sekarang api itu adalah keinginan gue buat ngebantu anak-anak muda kayak kalian.
Terus, ujian istiqomah. Setelah semangat awal, biasanya di minggu kedua atau ketiga rasanya berat banget. Itu wajar. Gue juga ngalamin. Tapi gue inget kata guru: amalan sedikit tapi rutin lebih baik dari besar tapi cuma sekali. Gue nulis satu paragraf sehari, bukan satu artikel seminggu. Dan itu berhasil. Butuh lima tahun buat tembus koran nasional.
Lalu, belajar tumaninah. Jangan terburu-buru. Nikmati prosesnya. Waktu gue nulis, gue nikmatin setiap kata. Gue nikmatin proses naik angkot ke kantor pos. Gue nikmatin ngetik ulang paragraf karena salah ketik. Begitu juga belajar digital. Jangan cuma ngejar hasil.
Setelah itu, sabar. Iklan boncos, konten sepi. Sabar bukan berarti pasrah. Tapi tetap evaluasi dan coba lagi. Gue dulu nulis puluhan artikel sebelum akhirnya dimuat di koran lokal. Ratusan sebelum tembus koran nasional. Lima tahun sebelum bisa nulis buku. Puluhan tahun sebelum jadi narasumber jurnal internasional.
Lalu tawakal. Setelah usaha maksimal, hasil serahkan. Tapi tanya dulu: “Udah maksimal belum?” Kalau belum, jangan panggil itu tawakal.
Dan akhirnya, qonaah. Syukuri sekecil apapun progress. Gue nangis bahagia cuma karena nama gue muncul di bulletin sekolah. Gue nangis bahagia waktu tulisan gue dimuat di koran lokal. Gue nangis bahagia waktu buku gue terbit. Gue nangis bahagia waktu nama gue muncul di daftar pustaka jurnal internasional. Syukuri setiap langkah. Tapi jangan berhenti.

Pesan Terakhir
“Kegagalan bukan akhir. Kegagalan adalah data.”
Gue belajar ini dari mesin ketik tua. Dari puluhan surat penolakan. Dari bulletin sekolah yang gak ada yang baca. Dari lima tahun perjuangan. Dari iklan boncos. Dari semua malam di mana gue nangis di lantai kamar.
Tapi gue juga belajar bahwa setiap penolakan adalah batu loncatan. Bulletin sekolah, bulletin eskul, bulletin pesantren, koran lokal, majalah lokal, koran nasional, tabloid, majalah nasional, antologi, buku solo, jurnal internasional—semuanya berawal dari satu ketukan jari di mesin ketik tua.
Dan butuh lima tahun buat tembus koran nasional. Lima tahun penuh air mata. Tapi gue gak berhenti. Dan sekarang, di usia 46 tahun, gue masih belajar. Masih gagal. Masih bangkit.
Dan gue berharap, kalian juga.
Selamat bertumbuh, adik-adik.
Dari gue, yang dulu juga pernah nangis di kamar karena tulisan ditolak. Dan sekarang tersenyum bisa berbagi cerita dengan kalian.
Salam dari Kampus Dosen Jualan.
Suryadin Laoddang – Kakakmu
