Bukan Ambeien, Tapi saya Harus Operasi

Ini adalah pengalaman pribadi!

Rasanya, pengalaman pahit ini harus saya ceritakan. Bukan untuk mencari perhatian, melainkan sebagai pengingatβ€”terutama bagi saya sendiri dan rekan-rekan sebaya yang usianya sudah menginjak atau bahkan melewati kepala empat.
Di usia 40 tahun, tubuh memang mulai bersiul pelan memberikan sinyal peralihan. Metabolisme melambat, massa otot menyusut, kepadatan tulang mulai berkurang, dan mata mulai kabur saat membaca jarak dekat. Saya pikir saya cukup waspada. Ternyata, saya keliru. Saya justru melakukan dua kelalaian fatal yang nyaris mengirim saya ke meja operasi.

π‘·π’†π’“π’Šπ’π’ˆπ’‚π’•π’‚π’ π‘·π’†π’“π’•π’‚π’Žπ’‚ π’šπ’‚π’π’ˆ π‘Ίπ’‚π’šπ’‚ π‘¨π’ƒπ’‚π’Šπ’Œπ’‚π’

Beberapa bulan lalu, saya dikejutkan oleh bercak darah yang keluar bersamaan dengan feses. Sebagai orang awam, saya langsung curiga ini akibat kurang seratβ€”kurang sayur, kurang buah. Saya pun berbenah, memperbaiki pola makan, dan alhamdulillah kondisinya kembali normal. Namun, kesadaran itu hanya bertahan sebentar. Beberapa hari kemudian, saya kembali ke pola makan lama. Memang, pendarahan itu tidak kambuh, tapi saya yakin itu adalah tembakan peringatan pertama yang saya lupakan begitu saja.

π‘²π’†π’π’‚π’π’‚π’Šπ’‚π’ 𝑲𝒆𝒅𝒖𝒂 π’šπ’‚π’π’ˆ π‘³π’†π’ƒπ’Šπ’‰ 𝑭𝒂𝒕𝒂𝒍

Abai kedua, dan ini yang paling tidak boleh Anda tiru, adalah menganggap remeh luka kecil. Sebagai anak petani yang terbiasa dengan luka terkena parang, pisau, sabit atau cangkul, saya sudah hafal rasanya. Saya terbiasa membiarkan luka mengering dan sembuh dengan sendirinya. Saya pikir itu adalah ketangguhan.

Konyolnya, kebiasaan itu saya bawa hingga usia 40 tahun. Beberapa kali, saya mengalami luka sobek kecil di celah bokong, akibat terlalu lama duduk dalam perjalanan, baik via udara maupun darat. Saya mengalaminya saat perjalanan Jogja-Malang (7 jam), rute Makassar-Mamuju (12 jam), dan juga Medan-Sibolga (12 jam). Saya biarkan saja. “Ah, nanti juga kering,” pikir saya sembarangan.

Saya lupa, tubuh saya bukan lagi tubuh remaja. Daya regenerasi sel tidak secepat dulu. Saya juga lupa akan lokasi luka ituβ€”persis di dekat anus, daerah lembap yang menjadi sarang bakteri dari kotoran. Luka kecil itu bukan sekadar luka; ia adalah pintu gerbang terbuka bagi kuman untuk masuk ke dalam aliran darah.

π‘·π’†π’•π’‚π’Œπ’‚ π’šπ’‚π’π’ˆ π‘Ίπ’†π’”π’–π’π’ˆπ’ˆπ’–π’‰π’π’šπ’‚

Luka itu memang tampak mengering di permukaan. Namun di balik kulit, petaka tengah bersarang. Beberapa hari kemudian, area sekitar celah bokong berubah. Bukan sekadar bengkak, rasanya seperti ada kelereng berisi api yang tumbuh di dalam daging. Kulit di atasnya meregang, memerah, dan berkilat seperti kaca. Setiap kali saya melangkah, ada rasa tertusuk dari dalam yang menjalar sampai ke pinggang. Duduk? Lupakan. Saya hanya bisa miring-miring seperti kepiting kelelahan. Demam merambat naik, menggigil mengguncang tulang, dan denyut nadi di area itu berdetak kencang seolah ada yang mau meledak.
Malam-malam menjadi derita tak berujung. Saya tidak bisa tidur. Posisi telentang menyiksa, posisi miring juga sama. Saya hanya bisa menatap langit-langit, berkeringat dingin, sambil menahan hasrat untuk menjerit. Saya tahu, ada yang salah. Sangat salah.
Saya pun dilarikan ke dokter. Hasil diagnosanya sungguh menampar muka saya: Abses Perianal. Saya ingin meluruskan satu hal penting di sini: ini BUKAN ambeien. Bukan wasir, bukan benjolan pembuluh darah. Ini adalah rongga nanahβ€”kantong berisi jutaan bakteri yang sudah menggrogoti jaringan di dalam tubuh saya. Ambeien mungkin bikin tidak nyaman, tapi abses perianal bikin Anda tidak bisa duduk, tidak bisa tidur, dan harus berurusan dengan pisau bedah.
Dokter menjelaskan, satu-satunya jalan adalah insisi dan drainaseβ€”sayatan kecil untuk membuka rongga nanah dan mengeluarkan isinya. Saya hanya bisa pasrah.
Proses operasi sendiri tidak saya rasakan sama sekali. Bius lokal bekerja dengan sempurna. Saya hanya mendengar suara gunting bedah beradu, suara isapan selang, dan bau khas nanah yang menusuk hidung. Tapi itu bukan apa-apa. Siksaan sejati baru dimulai setelah operasi.

π‘«π’†π’•π’Šπ’Œ-π’…π’†π’•π’Šπ’Œ π’Šπ’•π’– 𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 π’”π’‚π’π’ˆπ’‚π’• π’‘π’‚π’π’‹π’‚π’π’ˆ.

Mari saya ceritakan soal ganti tamponβ€”sebuah kata yang dulu netral, kini menjadi mimpi buruk yang membuat bulu kuduk saya merinding setiap kali mendengarnya.

Bayangkan ini: Luka operasi Anda tidak dijahit. Itu sengaja dibiarkan terbuka agar nanah sisa bisa terus mengalir keluar. Untuk menjaga agar lubang itu tidak menutup terlalu cepat, dokter menanamkan kain kasaβ€”berupa jalinan benang sepanjang jari telunjukβ€”ke dalam rongga luka Anda. Kasa itu adalah teman sekaligus algojo. Lihat wujudnya di gambar.

Saya ingat betul pengalaman ganti tampon pertama. Diraung perawatan, lalu perawat meminta saya untuk tengkurap di atas bed pasien dengan bokong nunggingβ€”terbuka, terekspos, dan menghadap ke langit-langit.
Saya menuruti, meskipun rasa malu dan takut bercampur jadi satu. Di posisi itu, saya tidak bisa melihat apa pun. Wajah saya sudah saya benamkan dalam bantal, mata tidak lagi melihat apa-apa, sementara bagian bawah tubuh saya terbuka sempurna. Saya mendengar suara perawat menggerakkan kursi rodanya, lalu jari-jari tangan bersarung tangan karet mulai menyentuh kulit di sekitar luka.
Dari belakang, suara perawat terdengar tenang tapi tegas, “Saya buka plesternya dulu ya, Pak… siapkan napas, karena ini agak lengket. Kalo dibutuhkan bapak bisa gigit apa saja, buat alihkan rasa sakit”
Saya mendengar suara pinset logam beraduβ€””cekrek”β€”dan detak jantung saya langsung melonjak. Rasanya seluruh tubuh saya menegang seperti kabel yang ditarik. Karena posisi nungging, saya tidak bisa mengerutkan perut atau mengepalkan tangan untuk menahan sakit; yang bisa saya lakukan hanyalah menggenggam erat pinggiran tempat tidur, memejamkan mata, dan mempersiapkan diri.

𝑳𝒂𝒍𝒖, π’•π’‚π’“π’Šπ’Œπ’‚π’ π’‘π’†π’“π’•π’‚π’Žπ’‚.

Saya merasakan kasa ituβ€”yang sudah mengering dan menyatu dengan daging luka sayaβ€”mulai tercabut perlahan. Bukan sekadar sakit. Ini seperti ada akar yang dicabut dari dalam sumsum. Rasa perihnya menyembur dari bokong, merambat naik ke tulang belakang, sampai ke ubun-ubun, dan mengalir deras ke ujung jari tangan dan kaki. Keringat dingin meletus di seluruh punggung saya. Saya menggigit bibir hingga hampir berdarah agar tidak berteriak. Tapi suara rintihan tetap lolos pelan, “aaaahhh… uughh…”β€”setiap milimeter kasa yang ditarik keluar mengeluarkan bunyi “clet” kecil yang basah, dan rasa seperti luka terbuka tersambar angin.
Perawat berhenti sejenak. Mungkin melihat tubuh saya mengejang dan otot bokong mengencang. “Ikatannya kuat sekali, Pak, karena sudah mengering. Sabar ya… saya tarik perlahan-lahan,” katanya lagi, suaranya tetap tenang meskipun tangan terus bekerja.
Tarikan kedua terasa lebih dalam. Saya merasakan ujung kasa yang paling dalamβ€”yang menyentuh dasar rongga lukaβ€”mulai lepas. Itu seperti ada sesuatu yang robek dari dalam. Saya memejamkan mata rapat-rapat, menggigit kerah baju, dan menghitung mundur dalam hati: tiga… dua… satu… Segala macam doa sudah saya panjatkan, baik dalam Bahasa Arab, Jawa dan Bugis.
Ketika kasa itu akhirnya keluar sepenuhnya, saya merasakan rongga luka yang kosong, menganga, berdenyut, dan terbakar seperti ada bara api di dalamnya. Nafas saya terengah-engah, punggung basah oleh keringat. Sakitnya masih terasa, padahal obat anti nyeri sudah disuntikkan lewat infus 1 jam sebelumnya
Perawat memeriksa kasa bekas yang berlumuran nanah dan darah. “Bagus, jaringannya sudah mulai bersih, Pak. Tidak terlalu bernanah seperti kemarin. Perawatannya sudah berhasil,” ujarnya mencoba memberi semangat, meski saya masih terengah-engah menahan sakit dan gemetar di atas meja periksa.
Tapi belum selesai. Kasa baruβ€”segar, putih, dan bersihβ€”harus ditanamkan kembali ke dalam lubang yang sama. Saya merasakan jari perawat menekan pelan, memasukkan benang demi benang. “Sebentar lagi selesai, Pak. Tinggal satu lagi…” katanya, sementara rasa perih perlahan memenuhi rongga lagi. Rongga itu ada 2 dalam bokong saya, kiri dan kanan. Sakitnya 6 kali, 2 kali saat tampon ditarik keluar, 2 kali saat dibersihkan dan 2 kali saat tampon dimasukkan .
Di posisi nungging yang memalukan itu, saya hanya bisa pasrah. Tidak ada yang bisa saya lindungi, tidak ada yang bisa saya sembunyikan. Tubuh saya terbuka habisβ€”bagian tubuh yang paling pribadi sekalipun menjadi tontonan dan area perawatan. Dan saya tahu, mimpi buruk ini akan terulang besok. Beruntung RS JIH, menyedikan dokter dan perawat cowok untuk saya.
“Selesai, Pak. Sudah diganti. Istirahat dulu ya,” ucap perawat akhirnya. Saya hanya bisa mengangguk lemas, masih mencoba mengatur napas, dan perlahan-lahan menurunkan bokong yang masih berdenyut sakit.
Dokter saya sempat bilang, proses ganti tampon ini mungkin 20 kali lebih menyiksa daripada sakit sunat Anda dulu. Dan saya setuju. Andai boleh memilih, saya lebih rela disunat ulang daripada merasakan tarikan kasa itu sekali lagi.
Saat tulisan ini dibuat, saya masih menjalani perawatan ganti tampon, syukurlah frekuensinya sudah berkurang dari 24 jam menjadi 48 jam sekali. Tapi masih ada konsekuensi lain yang mengiringi: saya tidak bisa jalan normalβ€”hanya bisa berjalan pelan seperti orang tua. Harus dipasangi kateter karena sulit buang air kecil. Buang air besar menjadi perjuangan tersendiri yang membuat saya berkeringat dingin di toilet. Dan yang paling memalukan: saya butuh bantuan orang lainβ€”istri, anak, atau perawatβ€”untuk sekadar bergerak dari tempat tidur ke kamar mandi.
Itu adalah harga mahal dari sebuah keabaian. Dan saya masih membayarnya sampai hari ini.

π‘Ίπ’‚π’šπ’‚ π‘²π’‚π’‘π’π’Œ

Kini, saya benar-benar kapok. Kapok menganggap remeh sinyal sekecil apa pun dari tubuh. Kapok menyepelekan luka hanya karena ukurannya kecil, terutama di area sensitif yang dekat dengan kotoran. Saya belajar bahwa di usia ini, sistem imun kita tidak lagi seperkasa dulu. Luka yang dulu sembuh dalam 2 hari, kini bisa berubah menjadi masalah besar jika tidak segera dibersihkan dan ditutup plester steril. Saya titipkan pesan ini untuk Anda yang sedang membacaβ€”bukan sebagai dokter, tapi sebagai orang yang masih merasakan perihnya setiap kali duduk:
  1. Soal darah di feses, jangan Anda anggap enteng. Saya dulu pikir itu cuma wasir atau kurang serat. Saya perbaiki makan, lalu saya anggap selesai. Padahal itu adalah bel peringatan pertama yang saya kubur begitu saja. Saya abai, dan bel itu tidak berbunyi lagiβ€”karena petaka berikutnya datang lewat jalur lain. Jika Anda mengalaminya, jangan berhenti di perubahan pola makan. Periksakan diri, jangan tunggu sampai tubuh mengirim sinyal yang lebih keras dan lebih menyakitkan. Dan ingat, tidak semua masalah di area bawah adalah ambeien. Saya dulu mengira begitu, dan saya salah besar.
  2. Soal luka kecil, saya sudah membayarnya mahal. Saya anak petani, saya hafal betul rasa terkena parang dan duri atau sayatan bambu. Tapi saya belajar dengan cara paling menyakitkan: lokasi luka menentukan segalanya. Luka di jari atau betis masih bisa saya biarkan mengering. Luka di celah bokong, dekat anus, adalah undangan terbuka bagi kuman. Jangan percaya pada kulit yang mengering di permukaanβ€”saya dulu percaya, dan ternyata di dalam sudah menjadi sarang nanah. Sekecil apa pun luka di area itu, cucilah dengan antiseptik, tutup rapat, dan jangan biarkan lembap. Ini bukan saran; ini peringatan dari saya yang masih ganti tampon sampai hari ini.
  3. Soal duduk lama, saya tahu rasanya. Saya sudah berkali-kali menempuh perjalanan 12 jam. Saya tahu betul rasa pegal dan malas bergerak di dalam kendaraan. Tapi percayalah, rasa pegal karena duduk 12 jam tidak ada apa-apanya dibanding rasa perih saat kain kasa ditarik dari luka operasi. Saya dulu malas mengubah posisi duduk. Sekarang saya menyesal. Jadi, saya minta tolong: setiap 20 menit, ubah posisi bokong Anda. Setiap 2 jam, turun dan berdiri. Gerakkan paha dan pinggul. Saya tidak ingin Anda merasakan apa yang saya rasakan, karena setelah operasi, Anda bukan cuma susah dudukβ€”Anda susah BAB, susah jalan, dan harus meminta tolong istri atau suami untuk sekadar mengantar Anda ke toilet.
  4. Soal usia, jangan pernah bilang “saya masih kuat”. Dulu, di usia 20-an, luka saya sembuh dalam 2 hari tanpa obat. Sekarang saya hampir 40, dan luka sobek kecil itu nyaris membuat saya kehilangan minggu-minggu produktif saya. Saya membayar dengan rasa sakit, waktu, dan biaya rumah sakit. Tubuh tidak peduli dengan ego kita. Yang namanya degeneratif itu berjalan diam-diam. Saya sudah merasakan buktinya. Jangan tunggu sampai Anda merasakannya juga untuk percaya.
  5. Soal gula, saya bersyukur sekaligus ketakutan. Saya sadar, salah satu faktor yang sangat memengaruhi lamanya penyembuhan luka operasi adalah kadar gula darah. Kadar gula yang tinggi akan menghambat pembentukan kolagen, melemahkan sistem imun, dan membuat luka terbuka seperti ini sulit menutup. Saya sangat bersyukur, saat menjalani operasi, kadar gula darah saya masih dalam batas normal. Tapi bayangkan, bagaimana jika saya pengidap diabetes yang tidak terkontrol? Luka sayatan dan rongga nanah ini bisa berbulan-bulan tidak sembuh, bahkan berisiko infeksi berulang. Saya titip pesan: kurangi konsumsi gula berlebihan sekarang juga. Minuman manis, kue, dan karbohidrat olahan adalah teman yang mengkhianati proses penyembuhan Anda. Jangan tunggu sampai dokter bilang kadar gula Anda tinggi dan luka operasi Anda makin lama makin perih.

Saya sudah merasakan akibatnya. Saya sudah kapok. Semoga Anda tidak perlu merasakan pisau bedah hanya untuk belajar dari kesalahan yang sama. Jaga tubuh Anda, karena di usia ini, kesehatan adalah investasi yang tidak bisa ditawar. Percayalah, tidak ada satu pun dari kita yang kebal terhadap kelalaian. Saya membayar mahal untuk pelajaran iniβ€”dengan rasa sakit yang masih terasa setiap kali duduk. Jangan jadi saya versi berikutnya.

𝑺𝒂𝒕𝒖 π’π’‚π’ˆπ’Š, π’ƒπ’Šπ’‚π’šπ’‚ π’ƒπ’†π’“π’π’ƒπ’‚π’•π’π’šπ’‚ π’Žπ’‚π’‰π’‚π’.
𝑰𝒏 π’•π’‰π’Šπ’” π’†π’„π’π’π’π’Žπ’š, π’Šπ’π’Š 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 π’ƒπ’‚π’π’ˆπ’†π’• π’”π’‚π’Œπ’Šπ’•π’π’šπ’‚, π’˜π’Œπ’˜π’Œπ’˜π’Œπ’˜π’Œ