Hari ini Anda menikahinya, esok dia milik bersama

Lagi, ini kisah nyata. Kisah yang saya alami sendiri, saya
alami saat menyempatkan diri menyambangi keluarga besar saya di sul-sel akhir
tahun 2010 silam. Saya lupa persisnya, tema apa yang jadi topik pembicaraan
saya dan keluarga besar saya saat itu, yang saya ingat waktu itu kami sedang di
atas panrung (balai bamboo) di kolong
rumah nenek kami sambil menikmati pisang muda rebus lengkap dengan cocolan
sambel terasinya. Entah dari mana asalanya, tiba-tiba kami saling membicarakan
pasangan hidup kami masing-masing. Tibalah giliran saya, spontan saya menyebut
kata “beneku” (istriku). Spontan pula, seolah dikomando. Semua orang yang ada
disekitarku bersahutan “alamui benemu” (ambil sana istrimu). Sebuah ungkapan
yang disampaikan dengan nada nyinyir dan sengaja untuk menyindir saya. Yah,
saya melakukan kesalahan besar.
Sejatinya, saya tahu persis jika mengakui istri (baca :
pasangan hidup) kita dihadapan orang Bugis adalah sesuatu yang tabu.
Salah-salah Anda dianggap mengingkari nilai kekerabatan keluarga besar Anda
sendiri. Itu pulalah yang saya alami, gara-gara mengakui keberadaan istri
sendiri dihadapan keluarga besar sendiri saya sempat diacuhkan saat itu.
Dalam khasanah masyarakat Bugis, sebuah pernikah tidak hanya
diartikan sebagai peleburan dua insan berbeda jenis kelamin. Lebih dari itu pernikahan
dimakna sebagai peleburan dua keluarga besar, keluarga besar sang mempelai pria
dan keluarga besar sang mempelai perempuan. Setelah Anda menikah, maka Anda
secara syah telah menjadi keluarga besar dari pasangan Anda.  Termasuk dalam kepemilikan hak atas pasangan Anda
sendiri. Sebagai contoh, istri saya yang kebetulan keturunan Jawa telah
dianggap sebagai bagian dari keluarga besar saya di Sul-Sel. Ia adalah anak
dari orang tua saya, kemanakan dari paman dan bibi saya, kakak bagi adik-adik
saya. Kakak atau adik bagi saudara sepupu saya, cucu bagi nenek dan kakek saya.
Ketika kakek saya menanyakan keberadaan istri saya maka sang
kakek dalam bahasa bugis akan berkata “tegiro fale lao eppo manittukku”
(kemanakah gerangan cucu menantu saya), atau karena kami sudah punya anak maka
pertanyaanya bisa pula dalam bentuk “tegiro gale lao emma’na la Rafi” (kemana
gerangan bundaya Rafi). Begitupula dengan bunda Rafi saat bersua dengan salah
satu kerabat kami di pasar, kerabat tersebut dalam bahasa Bugis berkata “ta
suromani kasi’ matu matteka lo bolaE Ambona la Rafi matu”, (Sampaikan ke
Ayahnya Rafi agar ke rumah kami nanti). Untung, bundanya Rafi ditemani adik
sepupuku kala itu, jadi ada yang jadi juru bahasanya. Rafi adalah nama anak
kami.
Kembali ke cerita di panrung
tadi, beruntung saya punya modal bersandiwara. 
Demi mencairkan suasana saya
berpura-pura bloon dan berujar “manrasaki’ idi passompe’E maderi’ kaingngau
inggauki, manittunna fale tauwwe nariyasengna beneta” (Repotnya kami para
perantau, karena lama merantau sampai lupa aturan, menantu orang dianggap
istri). Yah, begitulah cara yang saya pakai untuk mencairkan suasana, mengaku
salah, merendahkan diri tapi tegas berkata bahwa saya khilaf. Alhamdulillah,
keluarga besarku menerima pengakuan dosa saya, itu setelah saya dicerca dulu
dan diceramahi sekitar 30 menit. Nasib, nasib.
Jadi, jika Anda punya keinginan menikah dengan orang bugis,
maka siap-siaplah berbagi. Berbagi kepemilikan dengan keluarga besarnya, begitu
pula sebaliknya. Hari ini Anda menikahinya, maka esok Anda tak lagi bisa utuh
memilikinya sebagai milik Anda semata, keluarganya dan keluarga Anda punya hak
atas dirinya juga atas diri Anda. Jangan sekali-kali karena rindu yang
menggelora lalu serta merta Anda memanggil istri Anda dengan panggilah “oh,
istriku kemarilah”, petaka yang Anda dapat. Tapi, berkatalah “oh, bundanya …
kemarilah” yang titik-titik Anda isi dengan nama anak Anda. Kalau belum punya
anak, panggilah seperti ini “oh menantunya … kemarilah” titik-titiknya isi
dengan  nama orang tua Anda.
Namun, jika sudah didalam kamar, apalagi didalam kelambu,
apalagi dalam selembar sarung bolehlah Anda panggil pasangan Anda dengan
panggilan sepenuhnya rasa kepemilikan. “Eeee andrikku macenningnge, idimitu
kufuminasai, idi’mitu tuli kusenge’, laonimai narifasijemma minasa tallawaE”
(duhai dinda yang manis lagi lagi mewangi, marilah kemari pertemukan hasrat
yang terjaga sedari pagi tadi). Mau?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *