DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Sarung Samarinda adalah kain tenunan yang dibuat oleh kaum perempuan Bugis Wajo di Samarinda Seberang. Kain tenun tersebut pada umumnya terbuat dari rangkaian benang-benang sutera dengan menggunakan alat tenun gedogan atau ATBM (alat tenun bukan mesin). Pada awalnya sarung yang ditenun dengan beragam motif tidak memiliki nama. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan diskusi dengan beberapa orang budayawan serta pemerhati sejarah dan budaya Bugis di beberapa daerah.
Kain-kain sarung yang tenun para perempuan Bugis Wajo dibuat dengan menggunakan alat tenun yang masih sederhana. Alat tenun yang digunakan adalah gedogan dan ATBM atau alat tenun bukan mesin. Gedogan dan ATBM terbuat dari kayu. Kedua alat tenun tersebut murni digerakkan tanpa menggunakan mesin-mesin yang menggunakan sumber energi listrik atau bahan bakar fosil lainnya.
Sarung Samarinda yang dibuat oleh masyarakat Bugis Wajo sebelumnya tidak diberi nama namun mereka menemui kesulitan ketika membicarakan busana yang mereka kenakan kepada masyarakat lain yang tertarik terhadap sarung tersebut. Sarung itu kemudian diberi nama Sarung Samarinda bukan Sarung Bugis. Nama sarung Samarinda diberikan oleh para penenun Bugis Wajo karena sudah terjadi perpaduan budaya antara masyarakat Bugis Wajo dengan Kutai, hal ini ditandai dengan ikatan pernikahan antara kedua suku tersebut. Perpaduan budaya yang terjadi membuat para penenun seperti memiliki kesepakatan bersama bahwa sarung Samarinda adalah milik bersama antara suku Bugis Wajo dengan Kutai sehingga tidak boleh lagi memperlihatkan ciri khas masyarakat Bugis saja (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).
Sarung Samarinda memiliki pakem atau pola dasar kotak-kotak besar maupun kecil. Sarung tersebut memiliki bagian watang (tubuh) dan kapalanna (tumpal) (Gambar 1). Kain sarung tersebut memiliki beberapa motif yang pada perkembangannya mengalami modifikasi dengan memasukan pula unsur-unsur budaya suku Kutai namun mereka tetap mempertahankan pakem hasil warisan turun-temurun dari leluhurnya.
Gambar 1. Bagian sarung Samarinda. a. Watang (tubuh). b. Kapalanna (tumpal) (Sumber: Priyanti, 2011)
Motif-motif sarung Samarinda yang berhasil ditenun pada awalnya juga tidak memiliki nama. Lambat laun masyarakat Bugis memerlukan nama untuk kain tenunannya. Sebagian besar nama yang diberikan menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Bugis namun ada juga motif sarung yang diberi nama dengan bahasa Kutai. Saat ini pengelompokan motif sarung yang dilakukan oleh para penenun Bugis Wajo masih berdasarkan nama yang mereka berikan. Sesungguhnya pengelompokan terhadap motif-motif sarung Samarinda dapat dilakukan oleh para penenun berdasarkan jumlah benang yang menyusun setiap garisnya (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – Pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda) namun berapa tepatnya jumlah benang yang menyusun setiap garis masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Kaitan pemberian nama dengan motif tenunan juga belum memperlihatkan sistem penamaan yang baku sebagai contoh motif jepa-jepa kamummu yang berubah namanya menjadi hattama hassara lalu sekarang lebih terkenal dengan nama belang hatta. Contoh tersebut memberi kesempatan bagi perubahan nama pada motif yang lain sehingga pengelompokan atau pengklasifikasiannya tidak memiliki pondasi yang kuat. Spesifikasi siapa saja yang boleh menggunakan macam-macam motif sarung Samarinda pun tidak ada sehingga sarung Samarinda boleh dipakai oleh kaum lelaki dan perempuan.
Tulisan ini dibuat sebagai tugas dari mata kuliah Klasifikasi Tradisional dan Sistematika Masa Depan. Pada tulisan ini akan dibahas tentang sejarah masuknya orang-orang Bugis ke Kalimantan Timur, alat tenun, motif sarung Samarinda, motif sarung Bugis, perbandingan antara sarung Samarinda dengan sarung Bugis, kegunaan sarung Samarinda serta pengetahuan lokal masyarakat Bugis Wajo dalam membuat klasifikasi sarung Samarinda.
ARTIKEL INI TERDIRI DARI 8 ARTIKEL, Kelanjutannya silahkan baca disini :
Sarung Samarinda 2 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-2-sejarah-sarung.html
Sarung Samarinda 3 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-2-alat-tenun-di.html
Sarung Samarinda 4 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-3-motif-sarung.html
Sarung Samarinda 5 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-4-motif-sarung-samarinda-bugis.html
Sarung Samarinda 6 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-5-perbandingan-antara-sarung-samarinda-dan-sarung-bugis.html
Sarung Samarinda 7 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-6-kegunaan-sarung-samarinda.html
Sarung Samarinda 8 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-7-klasifikasi-sarung-samarinda-bugis.html

