Menyebut Aceh, kita akan teringat tiga hal yakni GAM, TSUNAMI dan SERAMBI
MEKKAH. Setidaknya dalam benak kita. Suka tidak suka, mau tidak mau atau bakan
diterima atau tidak diterima, Aceh memang identik dengan 3 hal tersebut.
Berbeda dengan identitas ketiga yang bernada menyenangkan juga membanggakan,
dua identitas awal yakni GAM dan tsunami banyak meninggalkan kenangan buruk
bahkan trauma berkempanjangan, teruma kata gempa. Setiap menyebut atau
mendengar kata tsunami, maka Aceh pasti terlintas dalam benak kita. Muncullah banyangan kengerian, ketakutan,
kematian bahkan kebinasaan. Gulungan air bah berwarna hitam yang bergelombang
dan tak kenal penghalang memicu ketakutan. Jejeran jenazah korban yang masih
juga ditemui hingga beberapa minggu setelah kejadian kian melengkapi rasa getir
bagi yang melihatnya. Bukan hanya bagi korban selamat atau para relawan tapi
juga bagi para “penikmat” berita bencana tersebut lewat belasan media kala itu.
maka kenangan akan peristiwa 8 tahun lalu itu muncul kembali. Melahirkan
kepanikan, rasa was-was, bahkan sindrom traumatik akut (bagi sebagian orang).
Bagi penulis, rasa was-was itulah yang muncul tatkala mendapat kabar tentang
gempa berkekuatan 8,9 SR (Geofon Gfz Postdam Jerman), 8,7 SR (USGS Amerika),
8,5 (BMKG Indonesia) yang dirasakan belasan negara sekitar laut cina selatan.
Gempa terjadi pada pukul 15:38:33 WIB dengan lokasi :2.40 lintang utara , 92.99 bujur timur, kedalaman 10Km. Rasa was-was paling mendalam yang saya rasakan adalah ketakutan jika gempa
ini merembet hingga ke Yogyakarta. Bukankah, gempa Jogja (27 Mei 2006) adalah bagian dari rentetan panjang gempa
Aceh.
benak saya. Hari itu, Jogja baru saja memulai kesibukannya, saat jarum jam
menunjuk 05.45. Hidupku terasa di atas tampah, ibarat bulir padi yang diayak ke
kanan dan ke kiri. Tanah dan segala yang ada diatas seolah diayung lalu
dihempaskan sekeras-kerasnya. Gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR itu merubah
wajah Yogyakarta dalam kedipan mata. Dari kota yang sibuk dengan dinamikan
pendidikan, seni dan budayanya berubah menjadi kota yang sepi, suram, penuh
jerit tangis, ratap iba dan orang-orang menjura minta ampun, berharap belas
kasih dan Sang Khaliq. Tanah merekah dan menutup kembali, jalan raya ibarat
tikar yang disentakkan, tiba-tiba bergelombang naik, lalu turun kembali
membentuk cekungan dan secepat kilat naik kembali. Setelahnya hidup terasa
beku, bahkan burung tak lagi terdengar
kicaunya.
semua bergerak tanpa akal sehat, hilur mudik tak tentu arah. Isu tsunami
membuat mereka yang selamat hidup dari gempa berganti panik. Korban kembali
bertambah, di perempatan Ngipik Bangutapan Bantul tepat didepan mata penulis
dua motor melaju dari arah berbeda dan bertabrakan, dua pengendara tewas seketika,
itu baru dua, belum ditempat lain, dengan penyebab dan cerita yang berbeda.
Kepanikan akibat isu tsunami bertambah dengan isu meletusnya Gunung Merapi,
yang memang telah status waspada beberapa hari sebelumnya. Masyarakat panik
dari arah selatan karena isu tsanami berpapasan dengan masyarakat panik dari
arah utara karena isu erupsi merapi. Hati siapa tak tercekam?
Senada dengan ulasan editorial Metro TV hari
ini, penulis juga melihat Indonesia (baca: kita) ternyata belum banyak belajar
dari gempa-gempa yang silih berganti menyapa daratan Indonesia. Meski
masyarakat kita telah tanggap dan waspada dalam menghadapi bencana tapi
instrumen pendukung belumlah maksimal. Selain sirine peringatan tsunami yang
belum maksimal, ternyata kita belum juga sigap dalam menyiapkan instrumen
tanggap darurat. Di Yogyakarta misalnya rambu petunjuk jalur evakuasi belum
sepenuhnya tersedia, runyamnya ini justru terjadi di daerah perkotaan yang
padat penduduk. Kalah dengan daerah perkampungan/desa yang justru lebih siap
dan jelas rambu-rambunya.
Karena sudah dianggap
berlalu, pelatihan tanggap darurat dan latihan evakuasi sudah mulai jarang
dilakukan, baik di Yogyakarta maupun di daerah lainnya. Terutama di gedung
perkantoran, kampus, sekolah dan pusat keramaian lainnya, bahkan masih banyak
diantara gedung-gedung tersebut yang tidak memasang petunjuk jalur evakuasi dan
pintu/tangga darurat. Tak hanya latihan tanggap darurat yang kurang, petunjuk
tertulis tehnik evakuasi dan penyelamatanpun juga jarang ditemui. Ironis! Belum
lagi kotak peralatan P3K juga jarang ditemui atau tidak ditempatkan ditempat yang
mudah dilihat dan gampang dijangkau.
jalur selamat. Pipa yang seharusnya dipasang menjulang pada bangunan
bertingkat, dimana penghuninya dapat prosotan
hingga lantai bawah yang telah ditentukan sebagai tempat berkumpul (assembly point). Pipa penyelamat ini akan
mengurangi potensi korban, terutama saat mereka berdasakan ingin memakai tangga
darurat, bukankah tangga merupakan struktur yang paling gampang rubuh saat
gempa. Selain itu masih juga belum banyak dipersiapkan meja atau jenis mebel
lainnya yang kokoh sebagai tempat perlindungan sementara saat gempa datang.
Akankah kita diam? Saya menjawab tidak! Saya akan lakukan yang terbaik demi
menyelamatkan orang-orang di sekeliling saya dari potensi bahaya. Minimal di
rumah dan di tempat kerja saya.
Foto 1 : ada-ada-aja-deh.blogspot.com

