Normal
0
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-language:EN-US;}
Entah sejak kapan, trend gaya desain rumah
di Indonesia berubah. Di tahun 2010-an keatas ada banyak perubahan gaya desain
rumah. Kini rumah-rumah banyak dibuat menjadi semakin simpel dan semakin elegan
seperti banyak yang kita temui saat ini. Baik itu di kompleks perumahan elit,
kompleks perumahan nasional seperti BTN. Pun juga kompleks perumahan rumah
sangat sederhana, ala program Fasilitas
Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), Rumah
Subsidi Selisih Bunga (SSB), Program Pembiayaan Swadaya Micro Perumahan (PSMP),
BP2BT, hingga TAPERA. Bahkan di tengah perkampungan warga di Kota, Pinggir dan
Pedesaan pun juga banyak ditemui rumah dengan gaya desain yang minimalis.
Fenomena apakah ini?
Alasan memilih rumah
minimalis
Kalau kata penulis sih, rumah minilis itu
enak dilihat, terlihat simpel dan elegan. Tidak banyak pernak pernik variasi
jendela, pintu, ventilasi yang berlubang, melekuk dan ragam variasinya. Bagi
penulis, rumah yang terlalu banyak variasinya membuat rumah kesannya terlalu
ramai, bagi penulis kesannya adalah sumpek. Efek lainnya, akan makin banyak
bagian rumah yang harus dirawat dan dibersihkan. Nah urusan membersihkan inilah
yang membuat penulis jadi malas. Terutama saat harus memperbaiki bagian rumah
yang berdebu pada bagian yang banyak ventilasi dan variasi lekukannya.
Kalau kata orang Jepang, rumah dengan
desain minimalis akan mudah dibersihkan dan selalu tampak lebih bersih,
dibandingkan rumah dengan gaya bagunan Eropa. Seperti rumah-rumah peninggalan
Belanda yang saat ini masih banyak dan bisa kita temui di beberapa kota di
Indonesia. Seperti banyak yang temui pada rumah di Malang. Selain faktor
bersihnya tadi. Alasan lain kenapa banyak orang yang memilih rumah dengan
desain minimalis, adalah rumah minimalis lebih murah biaya pembangunannya. Hal
ini tentu saja sangat memungkinkan, karena lebih hemat di bahan baku bagunan
itu sendiri. Juga hemat dari segi waktu pengerjaan serta penambahan asesoris
tambahan variasi lainnya.
Faktor berikutnya adalah, rumah dengan
karakter minimalis ini gampang jika ingin direnovasi atau di build up. Misalnya
merubah komposisi ruangannya, kompisi pintu masuk dan jendelanya, bahkan ketika
ingin dilakukan penambahan lantai. Renovasi dalam artian merubah wujud
tampilan, seperti penempelan aplikasi mempercantik rumah, mengganti warna cat
dan aplikasi terapan lainnya juga akan sangat mudah dan murah.
Biaya
Bangun Rumah Minimalis
Dalam membangun rumah impian dengan gaya
desain minimalis, meski diklaim lebih murah, tentu saja dananya harus
dipersiapkan. Meski murah tetap ada biaya yang harus dikeluarkan. Agar tidak
biaya tidak membengkak, maka lakukan persiapan berikut :
1.
Menabunglah sedari masih Bujang – Gadis
Hai anak muda, tidak ada jaminan nantinya
kamu akan dapat jodoh seperti apa? Apakah yang berdompet tebal atau justru yang
lebih kere dibanding kamu. Tidak ada jaminan mertua cukup harta karunnya untuk
bantu kamu bangun rumah kelak setelah menikah dengan anaknya. Bahkan bisa saja
justru mertuamu nanti yang ikut numpang hidup denganmu. Maka dari itu sedari bujang
– gadis, sisihkanlah uangmu dengan nabung. Belajarlah mentarget diri sendiri,
minimal tiap bulan nabung 1 gram emas, kalau tidak sanggup bisalah 0,50 gram
atau dengan ukuran lebih kecil lagi.
2.
Pengantin Baru, Stop Gaya Hedonmu
Terutama bagi Anda para pengantin baru,
segeralah rem gaya hidup hedon Anda. Rem sekuat-kuatnya, ingatlah Anda punya
anak bayi yang butuh biaya besar. Selalu sisihkan uang untuk kepentigan itu.
Sisanya tabunglah untuk persiapan bangun rumah nantinya.
3.
Belilah Tanah Jauh Hari
Harga gak ada ceritanya harganya turun,
kecuali tanah itu berada dalam kawasan rawan gempa dan bencana alam. Makanya
belilah tanah sesegera mungkin, jauh dari pusat kota tidak masalah. Jalanan
masuknya belum jadi 100% tidak masalah, yang penting Anda sudah punya dulu. Toh
nantinya bisa dijual, tukar guling atau disewakan, kelak jika dana sudah cukup
barulah perlahan bangun.
4.
Beli
Bahan Bangunan, Cicillah
Tidak ada salahnya Anda mulai nyicil beli
bahan bangunannya terlebih dahulu. Misalnya batu untuk pondasi, bata bata atau
bata ringannya hingga beli keramiknya. Ini relatif aman untuk Anda lakukan,
selain itu mengamankan uang kas Anda, juga biar menjadi triger pemicu semangat
untuk segera bangun rumah. Bukankah bahan-bahan diatas tahan lama dan minim
resiko rusak. Oh.. jangan lupa. Besi untuk bangunannya juga bisa Anda cicil
jika bahan baku diatas sudah dicicil beli.
5.
Pasang
pondasi dulu
Mungkin banget nih, pemasukan Anda saat ini
belum stabil. Bisa nabung tapi masih terbatas. Maka mimpi Anda memilik rumah
dengan desain minimalis, bisa Anda mulai dengan membangun pondasinya dulu.
Bukankah biaya pasang pondasi berada pada kisaran Rp. 250.000 hingga Rp.
300.000 per meternya. Setelah ini buatlah sumurnya, entah itu sumur gali atau
sumur bor. Setelah boleh Anda pertimbangkan pasang listriknya. Lalu lanjut lagi
ke pasang dinding atau tanah uruknya.
Dengan melakukan tahapan ini,
meski itu rasanya lama prosesnya, tapi jauh lebih baik daripada berharap dapat
undian berhadiah, berharap dapat bantuan mertua atau orang lain. Kata orang
bijak, rumah impianmu hanya bisa diwujudkan oleh dirimu sendiri. Jika dihitung
kasar, dengan sistem borongan, biaya bangun rumah minimalis saat ini adalah
kisaran Rp. 2.700.000, – hingga Rp. 3.000.000,- per meter perseginya. Nah,
sayangnya harga ini akan terus bergerak naik loh dari tahun ke tahunnya.
Tips memilih pemborong bangunan
rumah minimalis
Karena diatas, penulis
merekomendasikan Anda membangun rumah dengan model sistem borongan. Maka tentu
Anda harus memilih pemborong yang baik dan bermutu. Perhatikan tips memilih
pemborong bagunan berikut yah.
1. Jangan
pake perasaan, karena tidak enak sama keluarga, teman atau tetangga lalu mereka
Anda angkat jadi pemborong Anda. Orang dekat belum tentu baik dan amanah, orang
jauh juga demikian.
2. Sebaiknya
pilih yang sudah berbadan hukum agar secara administratif dan legal hukum lebih
aman dan mudah proses kedepan dan dikemudian hari.
3. Lihat
portofolio kerja dan kinerjanya. Banyak proyek yang dikerjakan bisa menjadi
tolok ukur Anda dalam memilih pemborong.
4. Jika
banyak yang merekomendasikan dia, maka ini juga dapat menjadi rujukan Anda
dalam mengambil keputusan.
5. Kumpulkanlah
setidaknya tiga hingga lima penawaran kontrak untuk Anda bandingkan sebelum
mengambil keputusan.
6. Negoisasi.
Setelah membandingkan dari berbagai sudah pandang dan tolok ukur, pilihlah pada
salah satu pemborong. Lakukan negosiasi mengenai hal-hal yang lebih detail terkait
pembagunan rumah minimalis Anda. Model rumah kekinian Anda.
7. Saat
negosiasi, bijak dalam melakukan perhitungan, semua harus matang dan tertuang
dalam tulisan kesepakatan kerja. Agar kontraktor tidak melakukan pengurangan
spesifikasi bagunan dan bahan yang akan merugikan Anda pada akhirnya.
8. Terakhir
aturlah kontrak kerja yang detail dan jelas antara kedua belah pihak. Agar
tidak ada yang tercederai kepentingannya, agar tidak ada yang merasa terzalimi
dalam proses pembangunan rumah Anda ini, rumah model kekinian.
Demikianlah artikel ini dibuat untuk Anda.
Bacalah dengan seksama, runtut dan tuntas, sehingga betul-betul Anda
mendapatkan manfaat dari tulisan ini. Penulis turut mendoakan Anda segera
memiliki rumah terbaik Anda, rumah model kekinian seperti yang Anda impikan
selama ini.
Normal
0
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-language:EN-US;}
