Kegunaan Sarung Samarinda
DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Sarung Samarinda dengan motif dan warna yang menawan sering kali digunakan pada berbagai upacara adat seperti pernikahan (mappabotting), tujuh bulanan (mappasili), naik ayun (mappenre tojang), dan kematian (ammateang) (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta). Motif siparappe dan sari pengantin berdasarkan kesepakatan bersama antara tetua adat dengan anggota masyarakat telah ditetapkan untuk digunakan pada upacara pernikahan.
Motif siparappe juga digunakan oleh pasangan lelaki dan perempuan yang sudah menikah. Pada dahulu kala motif siparappe yang sama dengan motif moppang pada sarung Bugis wajib ditenun oleh si gadis itu sendiri dan wajib digunakan pada saat memadu kasih di tempat peraduannya. Saat ini para pasangan suami istri tidak lagi menggunakan sarung pada saat melakukan ritualitas persenggamaan, mereka dapat menggantinya dengan selimut atau kain lebar lainnya. Motif sari pengantin hanya boleh digunakan oleh seorang lelaki yang telah mengucapkan ijab kabul atau telah melakukan akad nikah (Anonim, 2008 b; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta).
Sarung Samarinda yang digunakan pada upacara naik ayun (mappenre tojang) dan kematian (ammateang) belum diketahui motif mana yang wajib dikenakan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.
