Kemajuan tehnologi informasi saat ini, memungkinkan siapapun menghasilkan secara mudah. Melalu situs jejaring sosial seperti facebook, twitter juga memungkinkan siapapun melakukan promosi hasil karyanya alias barang dagangannya. Kemajuan tehnologi ini juga telah mengubah gaya hidup masyarakat terutama dalam hal kebiasaan berbelanja. Dahulu, masyarakat harus berbelanja konvensional dengan belanja langsung ke toko, mall ata pasar. Yogyakarta sebagai kota dengan bejubel mahasiswa pada akhirnya melahirkan banyak sosok-sosok kreatif dan berkarakter wirausaha. Salah satunya adalah Dian Alvia
Bulan puasa 2011 kemarin, dengan tema jilbab Rainbow Dian mampu meraup omzet 60.000.000 dalam sebulan. Bulan berikutnya dengan tema Flower Hijab Brozz mampu meraup omzet 5.000.000 per minggu. Dari pengalam Dian, bisnis online dapat dikatakan tidak perlu modal. “Toh akun facebook juga gratis, akses internet juga murah paling cuma 50.000 per bulan. Kalo mau cerdas pake aja hotspotan gratis, kan banyak tuh di Jogja” urai Dian disela-sela obrolan kami saat nongkrong di salah satu warung ala mahasiswa di bilangan Gejayan Yogyakarta. Kalaupun ada modal yang dibutuhkan, paling sebuah note book seharga 2 jutaan, camera digital pocket seharga 2 jutaan. Uniknya bermodal wajah manisnya, Dian menjadi model untuk setiap produk pakaian yang ditawarkan di toko onlinenya. “He he, numpang narsis sekaligus jualan” umbarnya sambil tersipu.
Adapun modal untuk produk yang dijual online tidaklah besar, cukup bikin contah desain atau cukup dengan gambar desainnya, lalu diunggah di akun facebook lengkap dengan detail, pilihan warna dan harganya, sistem pemesanan dan pengiriman barang serta pembayaran bagi pembeli. Biasanya hanya butuh beberapa menit setelah Dian mengunggah desain terbarunya, para pelanggangnya sudah mulai “cerewet” nanya dan melakukan pemesanan. Dalam sistem Divisazki, pembelian dilakukan dengan model pre order. Pembeli memilih desain/contoh terlebih dahulu, lalu mengirimkan uang muka minimal 50%. Setelah uang muka diterima, Dian melempar pesanan tersebut untuk dikerjakan/dibuat oleh desainer dan pembuatnya. Setelah barang jadi, pembeli kembali dihubungi untuk melakukan pelunasan, barulah barang dikirim ke pembeli. Dengan model pre order seperti ini, kemungkinan kerugian dapat dihindari oleh Divisazki.
Asas kepercayaan adalah kunci sukses Dian dalam mengolah toko onlinenya. Semua resi/bukti pengiriman barang oleh Dian selalu diunggah dan ditautkan ke masing-masing pembeli. Selain itu, layanan open check yang diterapkan oleh kantor pos dan jasa pengiriman lainnya kini memungkinkan para pembeli untuk mengetahui kirimannya sudah terkiriam atau sudah sampai dimana. Hal ini tentu membantu Dian dalam menjaga kepercayaan para pelanggannnya. Hingga kini, Dian masih menyimpan mimpinya untuk membuka toko konvensional di sekitaran kampus UGM dan UNY. “Penasaran aja sih Daeng, seperti apa sih mengelola toko gituan”, rupanya Dian juga paham kalau kontributor Inspirasi Usaha yang menemuinya senang jika disapa “Daeng”.
SIMULASI BISNIS
Belanja Modal
• Notebook (minimal Intel Atom) Rp. 2.000.000,-
• Camera Digital (minimal 12 MegaPixel) Rp. 2.000.000,-
• Modem (Minimal 2G) Rp. 150.000,-
Rp. 4.150.000,-
Belanja Bulanan (Asumsi untuk satu busana)
• Biaya Internet Rp. 2.000,-
• Biaya pengiriman Rp. 50.000,-
• Belanja Bahan Rp. 500.000,-
• Jasa Jahit dan Finishing Rp. 200.000,-
Rp. 752.000,-
Jika satu busana rata-rata laku Rp. 900.000, maka keuntugannya adalah Rp. 148.000,-. Padahal dalam satu bulan Divisazki minimal bisa menjual 8 buah busana. Jadi keuntungan perbulan adalah Rp. 1.184.000,-. Jadi cukup empat bulan sudah balik modal.